"Abang sama kak Bayu mau kemana?" Tanya Sakala saat melihat kedua saudaranya itu kini tengah bersiap-siap untuk pergi keluar.
"Abang sama kak Bayu mau keluar dulu sebentar, Kala disini aja sama kak Jay. Nanti kak Satya juga kesini." Ucap Jake sembari mengambil ponsel yang berada diatas meja lalu memasukkannya kedalam saku celana.
Sakala turun dari kursi samping brangkar, berjalan mendekat kearah sang abang.
"Emang abang mau kemana? Kala ikut boleh?"
Jake menoleh ke samping dimana Sakala berdiri memasang wajah memohon agar Jake mau membawanya keluar.
"Kala disini aja, kalo Kala ikut nanti yang jagain kak Jay siapa?"
"Kak Jay nya lagi tidur, Kala pengen keluar terus nanti mampir kerumah Lian sebentar, boleh ya?" Pinta Sakala.
Jake melirik sebentar kearah Lembayung, namun pemuda itu menggeleng kecil.
Bukan karena Lembayung tidak ingin membawa Sakala keluar, tapi pasti akan repot mereka berdua kan mau pergi kebeberapa tempat membeli keperluan.
Lembayung juga khawatir kalo Jayden bangun sepupunya itu butuh bantuan tetapi tidak ada siapapun disampingnya.
Lembayung menghampiri kedua sepupunya, sedikit berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Sakala,"Kala dengerin kak Bayu, kalo Kala ikut nanti yang jagain kak Jay siapa? Lagian abang Jake sama kak Bayu gak lama, janji cuma sebentar. Nanti sore kak Bayu ajak Kala pergi kerumah Lian deh cuma berdua, gimana?"
Sakala menimang sebentar tawaran Lembayung, benar juga kalo dirinya memaksa ikut nanti siapa yang jagain kak Jay?
"Hmm, ya udah deh Kala disini aja, jagain kak Jay. Tapi pulangnya beliin sesuatu ya, yang manis manis boleh."
Lembayung mengangguk setuju sembari mengusak rambut Sakala pelan,"anak pintar."
Setelah mereka berdua berpamitan, Sakala kembali duduk termenung dikursi samping brangkar memandangi wajah pucat Jayden yang kini tertidur lelap.
Tadi setelah sarapan Jayden izin tidur karena seluruh tubuhnya yang terasa sakit, bahkan Jayden hanya memakan tiga sendok bubur yang disodorkan Sakala.
Perlahan tapi pasti Sakala menyentuh tangan Jayden, mengusap pelan tangan yang kini terlihat begitu kurus dan dingin.
Sakala tau kondisi Jayden sama-sama memburuk seperti Riki, walau semua orang menutupi kondisi keduanya dari Sakala tapi anak itu tahu apa yang terjadi.
Mereka menutupi semua itu hanya karena tidak ingin mental Sakala kembali down.
Sakala menunduk, ketika setetes air mata ikut turun melewati pipinya seperti sungai.
Diam-diam Sakala menangis, rasanya berat sekali beban di hatinya semakin hari kian sakit dan tidak bisa sembuh.
Bohong kalo Sakala sudah berdamai dengan kepergian Julian, bohong kalo Sakala sudah benar-benar ikhlas. Karena nyatanya Sakala masih sering memimpikan kematian Julian hari itu.
Ditambah saat kondisi Riki memburuk kemarin, Sakala sedang ada bersamanya menyaksikan langsung bagaimana tubuh sang adik yang ikut drop tepat didepan matanya.
Sakala hampir gila, dibalik senyum dan ceria yang mulai Sakala tunjukkan ada rasa sakit dan takut yang tumbuh semakin besar dihati.
"Kak Jay, Kala cape tapi kalo Kala ngeluh itu sama aja nambah beban semua saudara-saudara Kala. Kala tau beban kalian juga pasti lebih berat dari Kala." Lirihnya dengan suara yang sangat kecil tidak ingin mengganggu sedikitpun waktu istirahat sang kaka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Aktuelle LiteraturSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
