Jake termenung di lorong rumah sakit depan ruangan Sakala, di pangkuannya terdapat buku gambar milik Riki yang sejak kemarin selalu ia bawa kemana pun ia pergi.
Membuka halaman demi halaman mempelajari setiap goresan yang adiknya itu coba gambarkan.
Di halaman pertama, Jake mulai memahami isi gambar. Dimana keluarga mereka masih baik-baik saja, papa dan semua kaka-kakanya saling bergandengan dengan Riki di tengah-tengah, gambar itu penuh warna dan ceria.
Sesaat Jake bisa membayangkan betapa antusias dan senangnya Riki ketika menggambar, tawa kecil, cekikikan halus pasti menghiasi wajah sang adik kala menggambar itu semua.
Jake diam-diam ikut tersenyum, mengelus permukaan gambar yang membuat hatinya sedikit berdesir hangat setelah sekian lama.
"Bukankah dulu keluarga kita begitu bahagia." Gumamnya pelan, kilas balik masa lalu membuat Jake tersenyum, keluarganya yang begitu bahagia sebelum badai menghantam mereka.
Jake kembali membuka halaman selanjutnya, senyumnya semakin terbit melihat gambar Riki yang kini tidak lagi terlihat abstrak dan konyol.
Jake justru menyadari gambar ini adalah isi hati si bungsu yang sebenarnya. Hingga sampai pada halaman menuju akhir, seperti malam itu dimana ia kembali terdiam.
Sebab mulai halaman inilah gambar Riki terlihat lebih berantakan, warnanya tidak lagi seceria gambar sebelumnya lebih cenderung gelap.
Jake mencoba memahami, tapi otaknya tidak kunjung menemukan apa maksud dari gambar tersebut.
"Bukankah itu gambar orang tenggelam?" Celetuk Lembayung yang entah sejak kapan sudah duduk di samping Jake, ikut memperhatikan gambar tersebut.
Jake spontan menoleh ke samping, alisnya berkerut seolah meminta penjelasan atas apa yang di ucapkan Lembayung.
"Kenapa? Emang benar kan? Buku gambar punya siapa itu?" Tanya Lembayung beruntun.
Jake memalingkan wajah kembali menatap gambar itu dengan lebih cermat, menarik setiap kepingan memori yang tak kunjung ia temukan.
"Tenggelam... Tenggelam ya?" Gumam Jake berulang kali, Lembayung di samping ikut memperhatikan setiap tingkah Jake yang seolah mencoba mengingat sesuatu.
"Jake, buku ini punya siapa?" Lembayung penasaran saja dengan buku yang Jake bawa sejak kemarin.
"Adek" Jawab Jake tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan hanya fokus menatap gambar tersebut.
"Riki?! Loh, emang Iki bisa gambar?!" Kaget Lembayung. Dia tidak tau kalo adik sepupunya itu bisa dikatakan pintar menggambar di umurnya yang terlalu kecil.
Jake memilih tidak menjawab, dia saja tidak tau sejak kapan Riki mulai menggambar.
"Kak...apa...riki mencoba memberitahu kita sesuatu?" Jake menyodorkan buku gambar tersebut pada Lembayung, berharap yang lebih tua bisa lebih memahami semua gambar abstrak yang ada disana.
Lembayung menerima buku gambar itu dengan bingung. Walaupun begitu ia tetap membuka setiap lembar demi lembar yang ada disana.
Sesekali matanya ikut menyipit, memperhatikan setiap kata yang tertulis disana. Jujur Lembayung agak sakit mata melihat tulisan ceker ayam milik si kecil Riki.
"Apa Riki pernah bercerita sesuatu padamu? Atau pada siapa saja?" Ucap Lembayung dan Jake menggeleng pelan.
Setelahnya Jake menunduk menyadari satu hal, kalo selama ini Jake mengira dia adalah yang paling dekat dengan si bungsu, nyatanya dia bahkan tidak tau apapun tentang Riki.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Fiksi UmumSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
