Jayden termenung menatap langit-langit kamar, bayang-bayang senyuman mama, tutur kata mama terus terngiang dibenak Jayden. Kalo boleh jujur Jayden ingin memeluk mama tadi siang, tapi ia takut.
Bayangan mama dimasa lalu menahan semua itu, ia takut mama marah dan lebih parahnya lagi mama akan kembali menggoreskan luka dihatinya.
Seperti diawal Jayden sudah hilang kepercayaan, sekecil apapun harapan ia tidak lagi bisa percaya.
Jayden lelah terus dibohongi, Jayden lelah jika harus menggantungkan harapan namun kembali dijatuhkan.
Jayden sudah pasrah, bahkan jika Tuhan tidak membangunkannya lagi hari esok, Jayden sudah siap.
"Loh, kak Jay udah bangun?" Jake ikut bangun lalu bangkit menghampiri Jayden.
Tadi Jake tidak sengaja terbangun karena bermimpi sesuatu, namun netra matanya tak sengaja melirik kearah Jayden yang tengah berbaring sembari melamun menatap langit-langit kamar.
"Ini masih jam 3 pagi. Kak Jay gak tidur?" Jayden menoleh lalu menggeleng kecil.
"Jake." Lirih Jayden, Jake lalu duduk dikursi samping brangkar menatap kakanya seolah menanggapi panggilan kaka padanya.
"Papa... mana?" Pertanyaan itulah yang akhirnya lolos dari mulut Jayden setelah beberapa kali menimang apa yang ingin ia katakan pada sang adik.
Jake mematung, tumben sekali Jayden mencari papa. Kakanya sedang tidak kerasukan, kan?
"Ngapain nanya papa? Kaka gak usah cari papa lagi, Jake males dengernya dia pasti lagi sibuk ngurus istri dan calon anak barunya. Kita dibuang." Jawab Jake sedikit ketus, ia sudah malas jika membahas topik mengenai papa.
Lain hal dengan Jake, lain pula dengan reaksi Jayden yang menafsirkan perkataan Jake berbeda. Remaja itu yang kini giliran terdiam, perkataan Jake barusan masuk kedalam hatinya.
Dia tau papa mungkin sibuk dengan calon anaknya dari tante Mira, jika hari-hari biasa Jayden tidak masalah dengan sikap papa yang seperti itu dan perkataan Jake barusan juga tidak akan membuat hatinya terlalu sakit karena ia sudah biasa.
Tapi dengan kondisi Jayden sekarang yang sensitif, perkataan Jake seolah menyakiti hati dengan hebat dan menyadarkan Jayden jika hidupnya tidak lebih penting dari apapun di dunia ini.
Dan kata dibuang terus terngiang dalam pikiran, membuat laju pernafasannya sedikit berat, kalo Jayden boleh jujur lagi ia juga ingin papa ada disampingnya.
Entah kenapa Jayden merindukan papa dan mama. Jayden ingin menghabiskan sisa waktunya dengan mereka, walau hanya dalam mimpi Jayden ingin disayang oleh keduanya.
Bahkan dalam mimpi pun Jayden tidak bisa merasakan kasih sayang mereka, makanya ia tidak bisa tertidur lagi setelah terbangun tadi.
Dan suara lembut mama juga keinginan untuk memeluk papa dan mama kian membuncah.
Tapi kembali lagi perkataan Jake yang mengatakan jika mereka dibuang oleh papa, membuat ia menjadi murung. Sudut bibirnya melengkung kebawah, matanya terasa panas dan berembun.
Hanya karena perkataan Jake, Jayden ingin menangis. Makanya ia memilih memunggungi kembarannya, menaikkan selimut hampir menutupi kepala, tidak mau dikira lemah sebab menangis.
Jake melihat semua perubahan ekspresi Jayden, ia menjadi merasa bersalah. Jake mengira Jayden tersinggung karena ucapannya yang terdengar ketus.
"Kak Jay maaf, Jake gak ada maksud kasar sama kaka." Ucap Jake meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.
Jayden tidak bergeming, ia tetap mempertahankan posisi memunggungi Jake, tidak tau saja kalo dirinya sudah menangis namun mati-matian ia coba untuk tidak mengeluarkan suara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Aktuelle LiteraturSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
