Sekitar jam 7 malam Jake baru sampai kerumah dengan ikut kemobil Milo salah satu teman club Inggrisnya, sepulang sekolah Jake memang sibuk membahas untuk karyawisata setelah ujian bersama dengan club bahasa Inggrisnya.
Jake berjalan dengan langkah gontai memasuki kediamannya, saat pertama membuka pintu Jake disambut oleh suara tangisan Riki yang menggelegar keseluruh penjuru ruangan, disusul oleh suara teriakan Sakala, sepertinya terjadi sesuatu diantara mereka.
Jake melihat Riki terduduk dilantai sembari menangis keras dan Sakala berdiri menghadap Riki wajahnya terlihat sangat kesal.
Jake menghampiri keduanya dengan wajah kesal, baru juga sampai kenapa harus dihadapkan dengan tingkah laku adiknya yang pasti rebutan sesuatu.
"Kala, adek kalian kenapa si?! Rebutan lagi? Kala adeknya kenapa?" Tanya Jake tak sabaran.
Sakala yang memang sedang kesal hanya diam membuang muka kearah lain tidak ingin membalas perkataan sang abang.
Jake berdecak kesal,"adek kenapa Kala?"
Sakala tetap diam tidak menjawab. Mendapat reaksi seperti itu Jake lantas beralih menatap tajam Riki yang masih menangis dilantai
"ADEK DIEM!! JANGAN NANGIS BERISIK. Kalian kenapa si?!" Bentak Jake geram menunjuk Riki untuk segera menghentikan tangisnya lantas kembali menatap tajam Sakala meminta penjelasan.
"Kala, Abang gak akan ngulang pertanyaan, jadi kamu mau jawab atau engga?" dingin Jake.
Sakala yang merasa ditatap tajam oleh Jake menunduk takut,"Adek rebut peralatan sekolah Kala hiks" cicit Sakala dari nadanya anak itu juga hampir menangis.
Mendengar penuturan Sakala, Jake dengan emosi menarik sesuatu dari tangan Riki secara paksa namun Riki berusaha menahan barang ditangannya.
"Ndak mau hiks...adek mau liat hiks"
Jake berdecak kesal mencubit keras tangan Riki yang malah membuat tangisnya semakin kencang.
Jayden yang baru keluar dari kamar langsung buru-buru berlari diikuti Julian yang memang sedang bersamanya menghampiri mereka bertiga.
"Jake, kamu ngapain cubit adek." Jayden langsung berjongkok memeluk Riki mengusap-usap tangan yang tadi sempat dicubit keras oleh Jake.
"Urus adeknya yang bener!! kaka darimana aja sih dua adeknya ribut tapi malah ngilang. Suruh Iki berhenti nangis, Jake pusing dengernya. Kala juga udah besar bukannya ngalah, kayak bocah" sergah Jake lantas melemparkan barang yang sempat ia ambil kesofa lalu pergi menaiki tangga menuju kamar.
Jayden yang melihat perubahan sikap Jake hanya bisa menatap punggung adiknya nanar. Kenapa Jake jadi ikut berubah sikap pada adik-adiknya juga.
"Abang berubah ya" cicit Julian yang kini ikut merangkul Sakala dan menariknya untuk duduk disofa mengambil kotak pensil yang tadi sempat dilempar oleh Jake lalu memberikannya pada Sakala.
Jayden juga menggendong Riki membawanya untuk duduk disebelah Sakala yang kini terisak.
"Kala sama adek rebutan apa, hmm?" Tanya Jayden lembut
Julian menunjuk kotak pensil yang dipegang Sakala, Jayden mengangguk seolah mengerti maksud Julian.
"Ouh, kalian rebutan kotak pensil. Adekkan punya satu kenapa rebut punya bang Kala?" Dengan nada lembut Jayden mengusap pelan surai Riki agar si adik bisa merasa tenang kalo Jayden tidak akan marah jika Riki mengatakan sejujurnya.
"Adekna ndak lebut hiks...adekna liat ja. Tapi bang kala na hiks..ndak boleh telus adekna didolong hikss cakit" jujur Riki semakin menenggelamkan kepalanya kedada Jayden sembari menangis sesenggukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Narrativa generaleSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
