Julian tertunduk lesu didepan ruangan Riki, sejak tadi air mata terus meluruh membasahi pipi Julian yang menangis tanpa suara.
Dihari ulangtahunnya Julian harus dihadapkan dengan sakit hati karena pertemuannya dengan mama, Julian tidak peduli orang lain akan mengucapkan selamat ulangtahun atau tidak, tapi gara-gara mama hatinya sakit.
Julian menghapus air matanya saat mendengar suara langkah kaki mendekat, ia bisa melihat Jake baru saja kembali setelah pergi entah kemana.
"Abang, apa kata dokter?" Tanya Julian bangkit dari duduknya menghadap Jake, ia tidak boleh memperlihatkan kesedihan dihadapan sang abang.
Jake terdiam, ia bingung haruskah menjelaskan jujur pada Julian atau bagaimana?
"Jujur aja abang, Lian bisa paham"
Jake memilih berjongkok didepan Julian, meraih tangan sang adik dan menggenggamnya dengan hangat.
"Adek harus segera mendapatkan donor ginjal itu yang dokter bilang, tapi adek pasti kuat dokter akan berusaha mencari yang terbaik buat adek. Lian percaya, kan kalo adek kuat?"
Julian mengangguk, namun setetes air mata kembali jatuh tanpa bisa dicegah, Jake yang melihat itu langsung menarik Julian kedalam dekapannya.
Jake pikir Julian menangis karena kondisi Riki, padahal bukan itu yang menyebabkan Julian menangis.
"Adek gak papa, Lian. Adek pasti sembuh, Lian gak usah takut, semua akan baik-baik aja." Tenang Jake.
Julian tidak mengatakan apapun, tubuhnya bergetar dan ia mulai menangis dibahu yang lebih tua tanpa suara.
"Lian cape abang"
***
Malam hari terasa lebih sunyi, suara dentingan jam mengisi kekosongan diruang rawat Jayden, waktu hampir menunjukkan pukul 11 malam saat Jayden terbangun.
Jayden melirik kearah Sakala yang tertidur disofa dan Satya tertidur beralaskan kasur lantai.
Dengan pelan Jayden turun dari brangkar, sebelumnya ia sengaja melepas nasal kanula karena merasa nafasnya membaik walau masih sesak setidaknya Jayden bisa menahannya sebentar.
Jayden lalu mendorong tiang infus sepelan mungkin keluar ruangan agar tidak membangunkan kedua manusia yang tertidur lelap.
Jayden ingin pergi melihat Riki, sejak siang Sakala dan Satya melarang keras Jayden pergi menjenguk sang adik, hatinya tidak akan tenang sebelum berhasil melihat Riki.
Didepan ruangan Jayden bisa melihat Jake berada didalam, menelungkupkan kepala kebrangkar tertidur disamping Riki. Jayden merasa semakin sesak melihat Riki yang ikut terbaring lemah diranjang pesakitan.
Tadi siang Jayden tidak sengaja mendengar percakapan Jake dan Satya soal kondisi Riki yang harus segera mendapatkan donor ginjal, penyakit adiknya semakin parah.
Jayden takut, takut kalo Riki pergi menyusulnya atau mungkin Riki bisa pergi lebih dulu dan Jayden tidak ingin Riki pergi sebelum dirinya. Jayden berharap adiknya bisa sembuh itu yang selalu Jayden ucapkan setiap kali meminta pada Tuhan.
Setelah puas memandangi Riki, Jayden berniat kembali keruang rawat sebelum langkahnya terhenti melihat Julian duduk dikursi lorong yang sepi dan gelap, Jayden tahu itu Julian karena kaos yang anak itu pakai.
Semakin langkahnya mendekat Jayden bisa melihat kekosongan dimata Julian, anak itu terus menatap kedepan dengan pandangan kosong.
Julian bahkan tidak menyadari kehadiran Jayden yang kini duduk disebelahnya.
"Lian" Julian tersentak kaget saat Jayden menepuk pelan bahunya.
Anak itu hampir berteriak namun urung saat menyadari jika sang kaka lah yang menepuk bahunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Aktuelle LiteraturSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
