84

936 120 65
                                        

Siang harinya Hilmi memilih pulang kerumah, perasaannya belum siap bertemu Satya lagi, sekalipun ia ingin menunggu Riki dirumah sakit tapi ia tidak bisa berhadapan dengan kedua putranya untuk saat ini.

Ucapan maaf yang ingin ia sampaikan pada Satya akhirnya tidak pernah sampai.

Entah Hilmi memiliki waktu atau tidak ia sudah melewatkan dua momen terbaik setelah mengabaikan permintaan pelukan Riki dan sekarang permintaan maafnya pada Satya.

Hilmi berjalan masuk kedalam rumah disambut dengan suara tawa dari arah ruang keluarga dimana ibu juga Mira yang tengah bersantai sembari berbincang santai.

Hatinya sedikit tidak nyaman melihat mereka, kenapa mereka berdua bisa tertawa lepas ditengah kondisi seperti ini disaat dirinya bahkan tidak bisa sedikitpun tenang karena kondisi Riki yang masih samar.

Mira menoleh menyadari kedatangan Hilmi yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka, dengan senyum mengembang Mira bangkit menyambut kedatangan sang suami lalu memeluknya dengan manja.

"Akhirnya mas pulang juga, aku kangen sama kamu, loh mas." Ucapnya dengan nada manja.

"Kamu tuh semalaman ninggalin istri yang lagi hamil dirumah. Semalam Mira gak bisa tidur karena nungguin kamu." Tambah Ariyani membela menantunya yang semalaman menunggu Hilmi pulang kerumah sampai tertidur di sofa.

Hilmi menunduk menatap wajah sedih sang istri yang berada dalam pelukannya.

"Maafin aku ya, semalam kondisi Riki gak baik-baik aja aku khawatir. Maaf ya karena buat kamu sama adik bayi nunggu." Tangan Hilmi terulur mengusap perut besar istrinya.

Kandungan Mira sudah menginjak usia 7 bulan. Dan 2 bulan lagi bayi mereka lahir.

Mira mengangguk mengerti,"Iya mas aku ngerti, Iki pasti lebih butuhin kamu daripada aku sama adik bayi."

Hilmi melepas pelukan Mira dengan pelan, lalu meminta izin untuk ke kamar membersihkan diri, Mira juga dengan semangat menyiapkan makan siang dibantu Ariyani tentunya.

Hilmi pergi ke kamar mandi menyalakan shower membiarkan tubuhnya basah dibawah guyuran shower bahkan Hilmi masih mengenakan bajunya lengkap.

Otaknya penuh dengan segala macam hal, sampai ia tidak bisa berpikir jernih. Nyatanya ucapan Satya terus menghantui, pandangannya pada Mira tidak bisa lagi sama.

Sikap yang berusaha ia tunjukkan tadi semata-mata agar Mira tidak merasa sakit hati, Hilmi juga belum bisa benar-benar memaafkan Ariyani tentang perkataannya kemarin pagi saat sarapan.

Setiap ucapan ibu masih terekam jelas diotak. Belum lagi penuturan Harlan semalam juga ikut menganggu isi kepalanya.

"Hilmi." Harlan mengambil posisi duduk disampingnya menyodorkan satu cup kopi hangat yang lelaki itu beli dikantin rumah sakit.

Waktu menujukkan pukul 1 dini hari, keduanya masih terjaga setelah satu jam lalu Riki tiba-tiba collapse membuat mereka semua khawatir bukan kepalang.

Hilmi menatap cemas pintu ruangan, Riki masih belum bisa dikunjungi jadi mereka hanya bisa melihat dari balik pintu kaca.

"Minumlah, kamu perlu kopi untuk terjaga sampai pagi."

Hilmi melirik cup kopi ditangan Harlan, lalu menerimanya dengan berat hati,"Terimakasih."

"Sama-sama."

Hening... tidak ada percakapan diantara mereka.

Satu menit.

Dua menit.

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang