Suasana pemakaman sore itu terasa begitu menyayat hati. Kepergian si kecil mengundang rasa sakit yang teramat dalam terkhusus untuk keluarga yang ditinggalkan.
Kali ini Arin bahkan sangat histeris ketika Tanavish memberi kabar duka. Perempuan itu langsung berlari keluar rumah tanpa mengenakan alas kaki membuat kaka ipar dan Tanavish segera berlari khawatir, lalu menyalakan mobil dan membawa Arin kembali rumah sakit.
Selama disana Arin terus memeluk tubuh kecil Riki seolah tidak membiarkan siapapun mendekat.
Bahkan Arin meronta-ronta ingin dilepaskan berharap ia bisa membawa Riki kembali dan menolak untuk raga putra bungsunya dikebumikan.
Sedangkan Hilmi, lelaki itu langsung pingsan tatkala Harlan memberitahu kenyataan yang sebenarnya.
Lalu Hilmi lagi-lagi pingsan untuk kedua kalinya ketika ia memaksakan diri menemui Riki diruangan. Tubuhnya tidak sanggup, hatinya tidak bisa menerima kenyataan kalo Riki benar-benar pergi untuk selamanya.
Papa enam anak atau setidaknya sekarang berubah menjadi papa dua anak itu bahkan hanya bisa terdiam, tatapannya benar-benar kosong, nyaris tidak ada satupun suara yang keluar dari bibir pucatnya.
Tidak seperti saat kehilangan Jayden dan Satya yang terus meraung histeris. Lelaki 40 tahun itu kini hanya mampu terdiam.
Air matanya kering bahkan ketika raga putra bungsunya dikebumikan Hilmi sama sekali tidak bereaksi apapun.
Bukan, bukan karena lelaki itu ikhlas tetapi Hilmi sama sekali tidak mengerti apa yang kini terjadi di hidupnya.
Duka beruntun yang terus datang silih berganti membuat otaknya tidak mampu berpikir apa yang sebenarnya terjadi.
Hilmi tampak seperti orang linglung. Berapa banyak orang yang datang dan meminta Hilmi bersabar dan ikhlas menerima kenyataan nyatanya sama sekali tidak mampu menerobos otak dan hatinya yang tengah kebingungan.
Hilmi sempat menggendong tubuh kaku Riki terakhir kali dirumah sakit.
Dekapan itu begitu erat, seakan-akan Hilmi mencurahkan seluruh cinta dan kasih sayangnya hanya untuk Riki semata. Namun, semua itu sudah terlambat putranya bahkan hanya bisa diam dengan tubuh dingin dan kaku.
Dulu Hilmi orang yang selalu diam bak patung ketika Riki mengemis sebuah pelukan tepat di depannya. Hilmi hanya menatap dalam diam tanpa berniat membantu sekalipun Riki terjatuh di depan mata.
Tapi kini semua berbalik, Hilmi mengemis didepan gundukan tanah yang masih basah, meminta putra bungsunya kembali dan memeluk dirinya seperti dulu.
Dadanya sesak bukan main, raungannya tertahan di tenggorokan, bibirnya bergetar menahan sakit yang bergejolak dihati.
Pemakaman siang itu mulai sepi. Satu persatu semua orang pergi menyisakan Hilmi dan Arin yang masih setia didekat pusara putra mereka.
Jake?
Remaja itu dibantu Sebastian, Tanavish dan Nadelo pulang kerumah. Tidak ada sangkalan, tidak ada penolakan remaja itu hanya diam ketika kedua sepupunya membawa Jake meninggalkan area pemakaman.
Pandangannya benar-benar kosong, telapak tangannya dingin nyaris seperti membeku ditengah duka yang mendalam.
Harlan?
Lelaki itu diam-diam ikut menangis tanpa suara sedikit menjauh dari area pusara.
Kali ini bukan Harlan yang diberikan kesempatan mengebumikan Riki untuk terakhir kalinya. Namun, Tanavish yang diberikan hak menggantikan Harlan dan Hilmi yang tak kuasa menahan duka atau bagi Harlan ia merasa tidak pantas mengantarkan Riki ke rumah barunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
General FictionSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
