"Kak Catya" Panggil Riki dengan pelan.
Keduanya kini sedang berbaring diatas rajang kamar sibungsu, dengan Riki yang terus memeluk Satya seolah kakanya akan hilang jika dilepas, sejak sampai kerumah Riki memang tidak ingin lepas dari Satya.
Tadi saja Satya harus diam-diam keluar kamar Riki saat adiknya itu baru tertidur untuk mengambil barang ke kamar Jake yang berakhir menasehati kembarannya hingga berlarian ditengah rumah.
Ariyani bahkan sampai menegur mereka, namun karena keduanya baru kembali pasca perang dingin tanpa sebab jadi omongan nenek hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Keduanya baru berhenti saat tangisan Riki menggelegar keseluruh sudut rumah, keduanya langsung berlari menghampiri si bungsu dikamar yang tengah menangis diatas ranjang sembari memeluk lututnya, disamping ada Julian dan Sakala yang tidak berani mendekat karena Riki menolak saat mereka mau menenangkannya.
Melihat kedatangan Satya, Riki langsung merentangkan tangan mengkode Satya untuk segera mendekapnya. Riki terus mendusal dileher sang kaka, tangisannya masih belum berhenti membuat Satya harus menimangnya kekanan dan kekiri seperti bayi.
Jake dibelakang hanya terdiam, karena Riki seolah enggan untuk melihat kearahnya, anak itu terus memalingkan wajah gelisah saat matanya tidak sengaja bersitatap dengan Jake.
Jake menyadari sikap dan perkataan kasar beberapa waktu kebelakang mungkin menjadi alasan kuat kehadirannya sekarang ditolak oleh sibungsu.
Julian yang mencoba memahami situasi akhirnya memilih mengajak Sakala dan sang abang keluar, memberikan ruang untuk Riki merasa aman bersama Satya.
Julian bahkan melarang papa yang hendak naik kelantai dua menuju kamar Riki setelah menemani Jayden hingga tertidur lelap.
"Kak Catya" panggil Riki lagi, kali ini tangannya sibuk memilin kancing kemeja Satya yang belum sempat diganti sejak pulang dari rumah sakit.
"Kenapa, hmm? Adek butuh sesuatu?" Tanya Satya dengan lembut seraya mengusap pelan kepala sang adik, sesekali Satya juga menciumi pucuk kepala adiknya yang sangat lama tidak sampoan, tapi tetap wangi dihidung Satya.
"Ana kak Jay? Tidul baleng kak Jay kak Catya, atut adek. Olangna jaat, jaat na adek, adek na ndak cendili hikss" racau Riki sedikit tidak jelas dan mulai menangis.
Satya tertegun, tunggu kenapa adiknya berubah menjadi sangat cadel, tata bahasanya juga menjadi berantakan, seingat Satya adiknya hanya belum bisa menyebutkan r, kenapa sekarang menyebut s berubah jadi c.
Dirumah sakit adiknya masih cadel seperti biasa hanya belum bisa menyebutkan r.
"Adek coba panggil kak Satya sekali lagi, kak Satya gitu"
Riki menggeleng,"Na kak Jay"
"Adek, kak Jay nya lagi istirahat dikamar. Adek sama kak Satya dulu, ya? Atau mau ditemenin sama papa atau abang Jake?"
Mendengar dua nama terakhir Riki menggeleng ribut, tubuhnya semakin bergetar hebat, Satya yang tidak mengerti situasi hanya bisa merapatkan pelukannya dengan sang adik.
Riki bahkan bergerak gelisah,"Ndak na..ndak na..hikss..meleka ndak adek"
"Sebenernya adek aku itu ngomong apa? Kak Jay tolong Satya, Satya gak paham!!!"
Dalam hati Satya berteriak karena ia sama sekali tidak mengerti situasi kenapa Riki bersikap seperti ini, yang Satya lakukan hanya berusaha memeluk Riki erat, mengusap punggung belakang sang adik, berharap adiknya mengerti jika Satya ada bersamanya.
Satya bukan Jayden yang setiap kali berbicara selalu menghasilkan kalimat mutiara yang bisa menenangkan hati, jadi Satya takut kalimat penenangnya malah membuat Riki semakin menangis kejar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
General FictionSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
