Sesuai janji Jake kemarin, remaja itu mengajak Riki mengunjungi rumah tempat peristirahatan terakhir Julian.
Sembari membawa seikat bunga tulip Riki meminta Jake untuk menurunkan dirinya di gerbang pemakaman, anak kecil itu meminta sang abang untuk menunggu di depan sedangkan Riki pergi kepusara menemui Julian seorang diri.
Jake menurut, memberikan waktu untuk Riki bertemu Julian disana, ia mendudukan diri di bawah pohon besar menatap hamparan hijau dengan pusara berjajar rapi disana.
Dari jarak sekarang, Jake masih bisa melihat semua yang dilakukan Riki di pusara Julian, anak itu nampak tertawa seolah cerita yang Riki ucapkan pada pusara Julian begitu berwarna.
Jake juga melihat Riki berkali-kali mengusap papan nama Julian, seolah itu adalah wajah Julian yang selalu Riki cubit saat iseng menjahili sang kaka.
Matanya sendiri terasa panas, kenangan bersama Julian satu persatu kini kembali mengisi penuh relung hatinya.
Jake selalu bertanya-tanya kenapa Tuhan membawa Julian lebih dulu dari pelukan mereka, kenapa anak sekecil itu harus pergi dengan tragis.
Jake menunduk, membiarkan air matanya kembali menetes mengalir melewati pipi tegas miliknya. Seberapa keras Jake berusaha untuk ikhlas, rasa kehilangan tidak pernah hilang dari hatinya.
Julian adiknya, adik kecil yang paling pengertian, dewasa, dan jail diwaktu bersamaan. Hadirnya Julian ternyata begitu berwarna, dan sekarang setelah Julian pergi warna itu hilang dari keluarga mereka.
"Kenapa Tuhan bawa Lian pergi sebelum Jake? Kenapa Jake harus dihadapkan dengan sebuah kehilangan? Kalo ternyata rasanya begitu menyakitkan."
Dirasa matahari mulai bersinar terik, Jake memilih bangkit hendak menghampiri si kecil yang kini tengah memeluk papan nama Julian dengan erat.
Riki menangis tanpa suara disana, sebelum Riki akhirnya mengecup singkat papan nama Julian lalu bangkit seraya melambaikan tangan ke pusara Julian.
Riki berlari kecil menghampiri Jake yang berdiri tegap dibawah pohon besar, tanpa banyak kalimat Riki menubrukkan diri ke kaki Jake, kepalanya mendongak agar bisa melihat wajah sang abang.
Ngomong-ngomong tinggi Riki baru sepinggang Jake jadi wajar saja kalo Riki harus mendongak.
"Udah ketemu sama kak Lian? Seneng ga?" Tanya Jake sembari mengusak rambut sang adik.
"Ceneng, adek dah celita cemua na. Emm abang, adek mau minta catu pelmintaan lagi boleh?"
Jake mengangguk,"boleh, adek mau minta apa?"
"Pulang, adek na pulang." Jawab Riki membuat Jake menatapnya dengan sorot tidak terbaca.
"Adek bocen dilumah cakit, adek kangen lumah. Adek mau layain ulang tahunna di lumah aja baleng papa mama." Lanjut Riki dengan begitu antusias, binar harap dari netra matanya terlihat begitu jelas.
Tapi bagi Jake binar itu seolah menyiratkan sesuatu yang tidak bisa Jake ungkapkan.
"Tapi kaka gak janji kan dokter yang nentuin adek boleh pulang atau gak, kalo misalnya dokter gak kasih izin adek harus terima ya?"
Riki berpikir sejenak, lalu mengangguk,"Iya, nanti adek juga bantu bilang ke doktel na. Adek janji ndak cakit agi."
Jake tersenyum kecil menanggapi jawab Riki,"ayo kita pulang."
Jake mengulurkan tangan dan Riki menerima uluran tangan Jake dengan senang hati. Keduanya berjalan keluar dari area pemakaman, sesekali tangan mereka diayun layaknya anak kecil yang saling bergandengan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Aktuelle LiteraturSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
