56

1.5K 170 60
                                        

Hari ini Satya bersiap pergi kesekolah setelah satu minggu full mengambil izin karena harus menjaga Jayden ataupun Riki dirumah sakit.

Padahal niatnya Satya tidak akan pergi kesekolah sampai Jayden benar-benar pulih, ia juga tidak tenang kalo harus meninggalkan Jayden sendiri dirumah tapi mau bagaimana lagi Jaydennya pagi-pagi membangunkan Satya dengan cara yang biasa Jayden lakukan.

Menarik selimut lalu membiarkan Satya kedinginan, menciumi setiap jengkal wajah Satya. Satya kan geli sendiri dicium Jayden, jadi mau tidak mau Satya harus bangun.

Julian juga dipaksa untuk pergi kesekolah oleh Jayden, dia tidak mau Julian jadi anak malas karena terlalu lama mengambil izin.

Keduanya memang tertidur dikamar Jayden memudahkan Jayden untuk membangunkan mereka. Dengan kesal keduanya beranjak dari tempat tidur kembali kekamar mereka masing-masing menyisakan Jayden sendiri dikamar.

Jayden menatap sekeliling, menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan memegang dadanya sendiri yang masih terasa berdenyut.

Jayden mendorong kursi rodanya mendekat menuju tempat sampah, mengambil buku yang kemarin Satya buang memandanginya dengan wajah yang sulit diartikan.

Tanpa diduga Jayden melempar buku itu kearah cermin hingga pecah berkeping-keping, sama seperti hatinya yang ikut hancur.

"Cermin itu bagaikan hati Jay, hancur berkeping-keping, pa."

****

Satya banyak memberikan nasehat dari A sampai Z sebelum remaja itu pergi kesekolah, bagaimana tidak Jaydennya akan Satya tinggal sendirian di rumah bersama dua perempuan gila yang bisa kapan saja menyakiti Jayden.

Mereka juga bertiga sempat bersitatap dengan Hilmi yang melenggang pergi begitu saja, tidak ada sapaan atau sekedar basa-basi.

Jayden mengantar keduanya sampai kedepan rumah, hari ini Satya akan membawa mobil sendiri, toh papa tidak peduli dengan anak-anaknya.

"Kak Jay, Satya sama Lian berangkat dulu. Salim" Satya mengulurkan tangan hendak mencium tangan Jayden sekalian berpamitan.

Jayden sedikit terkejut, Satya sangat jarang meminta izin padanya sampai salim seperti ini.

"Kak Jay inget ya semua ucapan Satya, jangan ngeyel apalagi nakal. Inget gak semua ucapan Satya? Kalo gak inget Satya dirumah nih" ancam Satya

"Iya ingat, sana berangkat. Lian tarik kak Satyanya"

Julian mengedikkan bahu,"Gak mau, Lian juga pengennya dirumah aja tidur"

Jayden menghela nafas panjang, adik-adiknya kenapa jadi menyebalkan begini.

"Terserah, kaka mau masuk kerumah nih" ucap Jayden berlaga memutar kursi rodanya kedalam rumah.

"Iya masuk sana, lagian Satya sama Lian mau berangkat, bay" Satya masuk kedalam mobil begitupun Julian.

Keduanya menurunkan kaca mobil melambaikan tangan dan Jayden juga ikut melambaikan tangan sampe mobil yang dikendarai Satya benar-benar pergi meninggalkan rumah.

Dengan berat hati Jayden mendorong kursi rodanya kembali masuk kedalam rumah. Jayden tau diam dirumah sendirian sama seperti menggali lubang kuburannya lebih cepat tapi kemana lagi Jayden harus pulang, selain kerumah yang selalu menambah luka Jayden hingga bernanah.

Kursi rodanya ia bawa kedapur, hendak mengambil air sebelum suara bel mengalihkan perhatian Jayden.

Awalnya Jayden berusaha abai lagipula nenek sama tante Mira mungkin ada dirumah. Biar saja mereka yang membuka pintu, tapi beberapa waktu berlalu suara bel itu tidak kunjung berhenti.

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang