Tiga hari berlalu setelah pulang dari rumah sakit hari itu, malamnya Riki demam tinggi, Jayden juga ikut sakit membuat Satya, Julian dan Sakala repot bukan kepalang.
Hilmi yang sangat sibuk sama sekali tidak pulang kerumah dan memilih menginap dikantor, Hilmi juga tidak bisa dihubungi bahkan pesan Satya maupun Sakala tak kunjung dibaca sampai dua hari setelahnya dan tidak ada balasan.
Selama itu pula Jake memilih menginap dirumah Gio beralasan untuk belajar bersama dan ikut tidak bisa dihubungi saat Satya mencoba meneleponnya.
Disekolah pun Jake benar-benar mengabaikan Satya setiap kali adiknya itu mengajak berbicara, Jake hanya akan diam atau menjawab ketus lalu pergi begitu saja.
Selama tiga hari Satya bertugas menggantikan Jayden merawat mereka semua dibantu Julian yang ternyata lumayan cukup membantu. Tapi yang namanya Jayden sebagai seorang kaka ia tidak benar-benar melepaskan Satya mengurus mereka, sesekali Jayden akan ikut membantu sekedar menemani Julian dan Sakala belajar ditengah kondisi Jayden yang seharusnya istirahat.
Jayden bahkan melarang Satya pergi kedapur untuk memasak, dia tidak mau dapur cantik papa menjadi kapal pecah apalagi ditambah Sakala yang membantu.
Seperti sekarang Jayden duduk dimeja makan sibuk mengolesi roti dengan selai untuk sarapan adik-adiknya, selama tiga hari kebelakang Jayden memang tidak memasak sebab ia tidak sanggup berdiri lama didepan kompor.
Semenjak pulang dari rumah sakit malamnya Jayden merasa tubuhnya tak karuan, selain dadanya yang terasa terhimpit dan sesak, kakinya ikut terasa nyeri dan sulit digerakkan.
Dan Jayden tau ini adalah salah satu gejala yang disampaikan dokter Anton kalo keadaannya semakin serius.
Jayden hanya berharap jantungnya mau bekerja sama setidaknya sampai papa bisa lepas dari tante Mira, Jake dan mama yang mau memaafkannya.
"Kak Jay lagi ngapain. Biar Satya aja" Satya yang baru saja turun langsung merebut roti ditangan Jayden.
"Kak Jay harusnya dikamar, biar nanti Satya bawain sarapannya kesana. Terus kaka jalan kesininya gimana coba" omel Satya sembari menarik kursi disamping Jayden lalu melanjutkan kegiatan mengolesi selai yang sempat ia rebut dari sang kaka.
"Ya jalan. Satya, kaka bukan lumpuh cuma-
"Cuma sakit kaki. Iya tau, tapi tetep aja itu sakit. Liat kakinya masih bengkak gitu, hasil pemeriksaan kaka kemarin gimana?"
"Bagus" bohong Jayden, dia tidak mau membuat Satya berpikir yang tidak-tidak sampai menganggu sekolahnya apalagi senin besok mereka akan melaksanakan ujian semester.
"Yakin? Satya mah gak yakin. Hari ini Satya gak usah sekolah, ya?"
"Loh, kenapa? Sekolah Satya senin kan ujian jangan sering bolos, dua hari lalu kan udah bolos."
"Kaka yakin sanggup jaga adek sendiri dirumah? adek semalam sempet kambuh, tadi juga badannya masih agak demam. Satya gak tenang kalo ninggalin kalian berdua dirumah" khawatir Satya.
Selama disekolah Satya juga pasti tidak akan bisa fokus belajar karena terus memikirkan dua saudaranya dirumah, Satya juga udah dua kali izin tidak hadir latihan demi pulang duluan mengurus kaka juga adik-adiknya.
"Hari ini Satya sekolah cuma sebentar, kan? Kaka bisa jaga adek, Lian sama Kala juga pulang cepet gak lama" ucap Jayden meyakinkan Satya juga dirinya sendiri kalo ia masih sanggup ditinggal berdua dengan Riki dirumah.
Satya hanya berdecak kesal tidak bisa membantah perkataan Jayden sama sekali, kakanya ini sangat keras kepala melebihi batu diluar sana.
Setelah selesai mengolesi roti dengan selai, Satya bangkit pergi kedapur mengambil sebaskom air dingin lalu kembali kemeja makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Ficción GeneralSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
