83

926 118 36
                                        

Dinginnya dinding rumah sakit malam itu menjadi saksi dimana keempat saudara itu saling menguatkan dan berdoa berharap keselamatan adik kecil mereka yang tengah berjuang untuk bisa kembali ke dalam pelukan mereka.

Malamnya Riki tiba-tiba collapse, suara monitor berbunyi nyaring, para tim medis langsung berlari panik menghampiri ruangan untuk menyelamatkan tubuh kecil Riki yang kembali kejang.

Begitupun dengan Hilmi yang terus menerus berdoa agar Tuhan tidak membawa si bungsu sekarang.

Lelaki itu menangis tanpa suara menunggu agak jauh dari ruangan, hatinya benar-benar takut sekali.

Harlan disampingnya hanya bisa mengelus bahu Hilmi memberikan kekuatan berharap keponakannya akan baik-baik saja.

Semalam tidak ada yang bener-bener tertidur setelah dokter berhasil menyelamatkan Riki, anak kecil itu masih kuat dan memilih bertahan.

Sujud syukur Hilmi lakukan, walau ia tahu Riki belum juga bangun dari tidur panjangnya, tapi setidaknya Riki tidak memilih pergi dan tetap bersamanya didunia ini.

Sampai pagi menjelang mereka masih setia menunggu di depan ruangan.

Satya yang pertama memilih bangkit setelah semalaman netra matanya tidak kunjung tertidur, menghampiri Sakala yang tengah tertidur di kursi panjang beralaskan paha Jayden sebagai bantalan juga jaket milik Jayden yang sengaja dibuka sebagai selimut untuk Sakala.

Sedangkan Jayden sendiri menyandarkan tubuh ke dinding dibelakangnya sembari memejamkan mata, namun Satya yakin Jayden tidak tertidur.

"Kak Jay." Satya mengguncang pelan bahu kakanya.

Pagi ini Satya harus mengantarkan kedua saudaranya kembali kerumah, Satya khawatir kondisi Jayden akan ikut menurun terhitung ada waktu dua hari lagi sampai Jayden melakukan operasi besar itu.

Besok Jayden baru akan masuk kerumah sakit sembari menunggu operasi yang sudah terjadwal, Jayden harus banyak istirahat agar kondisinya tetap stabil.

Satya mau operasi besar ini berhasil dan Jayden akan sehat sepenuhnya.

Jayden membuka mata merasa guncangan pelan di bahunya, matanya berkedip dua kali saat pening menjalar membuat Satya didepannya terlihat berbayang.

Jayden menunduk memijat pangkal hidungnya saat dirasa kepalanya terasa semakin pening, mungkin saja ini akibat karena kemarin Jayden menerobos hujan dan tidak mengganti baju basahnya hingga kering sendiri.

Satya yang melihat itu langsung khawatir, tangannya terulur mengecek kondisi suhu badan Jayden yang ternyata panas, kakanya demam.

Lihat, hal yang baru saja Satya khawatirkan akhirnya terjadi.

"Kaka demam loh ini. Kepalanya pasti pusing ya, sebentar Satya panggil perawat minta kaka juga ikut dirawat aja disini."

Jayden menahan tangan Satya yang hendak pergi memanggil perawat, remaja itu menggeleng, ia tidak mau ikut dirawat masih banyak hal yang harus ia lakukan.

Jayden juga merasa tubuhnya masih kuat, hanya pening sedikit itu pasti akan hilang hanya dengan tidur.

"Jangan, kaka gak papa gak usah panggil perawat. Kaka cuma perlu tidur sebentar, abis itu pusingnya pasti hilang."

Jayden mencoba meyakinkan Satya bagaiamana pun masih banyak hal yang harus Jayden cari tahu, ia juga masih ingin menemani Riki disini.

"Tapi, kaka harus banyak istirahat. Kaka gak lupakan dua hari lagi jadwal operasi kak Jay? Kaka harus bisa jaga kondisi biar tetap stabil. Biar Satya panggil-

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang