73

1.2K 157 50
                                        

Jake terus membuka mulutnya, merasa takjub dengan apa yang ia lihat didepannya.

Hamparan biru laut yang berderu dengan ombak yang tenang, pasir putih yang begitu lembut langsung menyapa kaki telanjang Jake karena ia memang sengaja membuka sepatu sejak dimobil.

Jake berbalik melihat Satya yang juga tengah takjub dengan pemandangan yang begitu indah didepannya.

Senyuman indah merekah dibibir Satya, Jake melihatnya dan ikut tersenyum tanpa banyak bicara ia menarik tangan sang kembaran menggandengnya untuk lebih dekat dengan bibir pantai, membiarkan kaki mereka tersapu oleh ombak yang menyapa.

Kedua remaja itu terlihat sangat bahagia, untuk pertama kali setelah sekian lama tawa tanpa beban menguar dari keduanya.

Begitupun dengan Jayden menatap kagum kearah pantai, kakinya menampak kepasir yang begitu lembut dengan Sakala yang berada disampingnya.

Jayden juga ingin ikut berlari menyusul kembarannya tapi ia ingat kondisi tubuhnya tidak mungkin untuk terlalu lelah.

Sakala juga nampak diam matanya tetap lurus menatap laut tapi ia sendiri tidak bisa mendeskripsikan perasaannya.

Sakala ingin bahagia, tapi rasanya ada sesuatu yang menahan Sakala untuk tidak terlalu bahagia.

Arin yang melihat keduanya hanya diam ditempat memilih mendekat dengan Riki yang masih setia digendongan.

Arin berhenti disamping kanan Jayden, menepuk pelan pundak putra sulungnya.

"Pergilah, mama akan mengawasimu dan adik-adik dari sini." Ucap Arin tak lupa dengan senyuman teduh miliknya.

"Tapi mama-

"Anggap aja Jay udah sembuh, Jay bebas ngelakuin apapun yang Jay mau. Jay boleh mengeluarkan semua perasaan yang menumpuk dihati Jay. Pasti beratkan menyimpan semuanya sendiri? Kalo gitu Jay boleh teriak sekeras mungkin, buat diri Jay sendiri merasa bahagia, mama ada dibelakang Jay." Tutur Arin meyakinkan Jayden untuk bisa melupakan apa yang hatinya rasakan.

"Jadilah diri Jay sendiri, jangan mikirin kalo Jay seorang kaka, putra sulung atau apapun itu. Anggap aja Jay gak punya beban apapun, dan tugas Jay sekarang hanya untuk bahagia."

Jayden menoleh kesamping kanan menatap wajah mama yang terasa begitu menenangkan, senyuman mama membuat hati Jayden merasa aman, penuturan mama membuat Jayden merasa yakin untuk sejenak melupakan lukanya.

Mata keduanya saling menatap, Jayden mencoba mencari kebencian dimata mama tapi ia sama sekali melihat itu selain tatapan tulus yang mama tunjukkan.

Dan sekarang Jayden dengan ragu melangkahkan kaki menyusul Jake dan Satya.

Dulu setiap kali mereka berlibur Jayden hanya diam duduk menjaga barang-barang dan hanya bisa memperhatikan mereka bermain.

Mama bilang Jayden penyakitan, tidak boleh terlalu lelah jika banyak bertingkah dan membuat liburan mereka hancur.

Sesekali Jayden menengok kebelakang memastikan mama tidak menyuruhnya kembali untuk menjaga barang-barang, tapi kali ini berbeda mama malah tersenyum dan melambai menyuruhnya untuk terus maju kedepan.

Mendapati mama yang mendukungnya untuk bermain membuat Jayden tanpa sadar mulai berlari kecil, tenaga yang beberapa hari terakhir seolah hilang kini kembali membuatnya bersemangat untuk menghabiskan waktu bermain di pantai.

Kakinya juga mulai basah terkena deburan ombak, Satya yang melihat Jayden mendekat menarik tangan sang kaka untuk lebih masuk kedalam air.

"Kak Jay, ayo main air, disini seru sekali" seru Satya membagi rasa bahagianya dengan Jayden setelah masuk kedalam air.

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang