Jayden terbangun saat jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari, dadanya berdegup kencang, mimpi buruk yang sudah lama pergi kini kembali datang dengan versi yang lebih membuat Jayden tidak bisa berpikir jernih.
Jayden baru tidur pukul 1 dini hari entah apa yang sedang Jayden lakukan setelah semalaman duduk didepan meja belajar menatap layar laptop miliknya.
Jayden memilih turun dari ranjang, pergi kekamar mandi untuk sekedar membasuh wajah.
Kalo sudah seperti ini Jayden tidak bisa tidur lagi, jadi ia memutuskan keluar kamar berjalan mengitari rumah memindai setiap sudut rumah yang membuatnya merindukan suasana rumah yang hangat seperti dulu.
Jayden melangkah pelan, cahaya dari lampu kecil di sudut ruangan menjadi satu-satunya cahaya disana.
Entah bagaimana Jayden sudah berada didepan pintu yang terdapat gantungan papa nama bertuliskan Julian Superhero, perlahan tapi pasti Jayden mengangkat tangan menyentuh gagang pintu lalu membukanya dengan pelan.
Dingin, satu kata yang Jayden rasakan saat memasuki kamar bernuansa biru langit, dinding kamar yang dihiasi wallpaper bergambar langit dan awan yang sudah ditinggalkan sang pemilik sejak 3 bulan lalu.
Perlahan harum Julian hilang dari kamar, beberapa barang disana mulai dipenuhi debu karena papa mungkin tidak merawat kamar Julian dengan baik.
Jayden melangkah semakin ke dalam, tangannya terulur meraih sebuah buku yang menarik perhatian, buku itu berada diatas meja belajar.
Dengan gerakan lambat Jayden membuka halaman pertama disana berisi foto-foto mereka saat berlibur beberapa tahun lalu masih ada Arin kecuali Riki yang memang belum lahir, sepertinya Julian sengaja menempelkan foto-foto tersebut.
🖼 (picture)
Ini liburan yang menyenangkan, walau Lian gak bisa ingat soalnya baru usia 3 tahun waktu itu. Ini Lian dapet fotonya dari kamar papa. Syut...jangan bilang papa, soalnya fotonya lucu makanya Lian ambil.
Halaman berikutnya masih dipenuhi foto-foto bahagia keluarga mereka, Jayden juga tanpa sadar ikut tersenyum membaca setiap halaman yang Julian tuliskan disana.
Ternyata keluarga mereka dulu pernah sebahagia ini, walaupun mama pergi tapi papa bisa menggantikan kehadiran mama.
Jayden tahu kehadiran mama tidak bisa digantikan siapapun tapi saat itu papa berhasil mengisi kekosongan hati mereka terlebih untuk Jayden sendiri.
Setelah puas membaca seluruh isi didalam buku tersebut Jayden kembali meletakkan buku tersebut disana, hatinya sedikit menghangat mengingat keluarga mereka pernah sebahagia itu.
Jayden berjalan kearah ranjang mendudukkan tubuhnya disana setelah lelah berdiri terlalu lama karena membaca buku milik Julian.
Matanya mengedar memperhatikan setiap sudut kamar, Jayden bisa membayangkan jika Julian masih hidup, adiknya pasti akan merangkul dirinya memberikan banyak kata penenang dan semangat.
"Lian, kaka kangen banget sama Lian. Rasanya berat banget, kaka bingung, kaka gak tau harus apa. Lian, tolong kasih tau apa yang harus kaka lakuin sekarang?"
Jayden menunduk, merasakan air mata yang kembali menetes setelah mengingat Julian.
Untuk beberapa saat Jayden menghabiskan waktu dikamar Julian, menenangkan diri berharap adiknya akan datang merangkulnya sekedar memberikan jawaban atas semua kebingungan dan keputusasaan yang Jayden rasakan sekarang.
****
Ketika matahari mulai muncul, Jake sudah rapi mengenakan seragam lengkap, hari ini ia akan pergi ke sekolah membereskan masalah yang seharusnya selesai dengan cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Aktuelle LiteraturSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
