54

1.4K 175 104
                                        

Malam harinya ruang rawat Jayden benar-benar ramai oleh semua saudaranya, bagaimana tidak trio bocil kini berkumpul menonton pororo diponsel Satya sembari kakanya itu menyuapi mereka bertiga satu persatu.

"Katanya Lian udah bisa jaga kak Jay sama adek sendirian, bisa nyuapin juga. Kenapa sekarang Lian yang disuapin makannya sama kak Satya" celetuk Jake, ia masih kesal dengan ucapan Julian kemarin.

Julian melirik Jake sinis,"Itukan waktu itu, sekarang Lian mode bocil. Jadi dewasa tuh cape, Lian masih anak-anak"

Julian kembali memfokuskan diri menonton Pororo, ketiganya duduk berjajar disofa dengan Riki ditengah memegang ponsel milik Satya.

"Iya deh sipaling anak-anak, lagian siapa suruh jadi sok dewasa" cibir Jake.

"Keadaan yang memaksa" timpal Julian.

"Keadaan yang memaksa, sok dewasa lo cil" sahut Jake.

"Abwang kwalo swadwar ngweselin" timpal Julian tidak jelas karena mulutnya baru saja diisi penuh oleh makanan.

"Dari dulu abang sadar kok"

"Swadar apwanya?"

"Sa-

"Udah-udah Jake, jangan ajak adiknya debat, kasian lagi makan takut keselek" ucap Satya menghentikan perdebatan mereka berdua.

"Superhero Lian mana bisa keselek" cibir Jake lagi.

Satya hanya bisa menggeleng lelah, sedangkan Jayden ikut tersenyum kecil memperhatikan mereka yang nampak akur, perubahan sikap Jake juga membuat hatinya sedikit tenang.

Satya akhirnya selesai menyuapi trio bocil, Satya kini beralih menghampiri Jayden yang terus tersenyum memperhatikan interaksi adik-adiknya.

"Nah sekarang giliran kak Jay makan" Satya mengambil mangkok bubur disamping nakas bersiap untuk menyuapi Jayden.

Jake dengan sigap membantu menaikkan sedikit brangkar agar Jayden lebih nyaman makan, masker oksigen Jayden juga sudah diganti tadi sore oleh nassal kanula karena Jayden mengeluh tidak nyaman, nafasnya juga tidak sesesak tadi siang, tapi tetap dadanya masih sakit setiap kali menarik nafas.

"Sedikit ya?..Tenggorokan sakit" lirih Jayden agar Satya tidak memaksa untuk Jayden makan banyak.

"Iya, yang penting ada makan yang masuk"

Satya mulai menyendok bubur sedikit demi sedikit menyuapi Jayden yang makan dengan pelan, karena ternyata rahangnya terasa sakit untuk mengunyah mungkin akibat bogeman papa kemarin.

Baru 3 suap Jayden sudah menolak suapan Satya, ia tidak kuat dengan sakit dirahangnya kalo terus mengunyah ataupun menelan.

"Jake baru sadar, pipi kaka yang sebelah sini bengkak banget. Tamparan nenek emang sekeras itu, kak?" Jake mengulurkan tangan menyentuh pelan pipi Jayden yang membiru juga bengkak.

"Papa pukul kaka juga? Jujur aja sama Satya, apa yang papa lakuin sama kak Jay. Kaka gak bisa bohong, dokter Anton yang bilang sama Satya kalo memar didada kak Jay itu akibat benturan atau pukulan papa?" Ucap Satya to the point.

Jake terkejut, ia baru tahu fakta ini. Bukan hanya Jake tapi Julian dan Sakala juga mulai mengalihkan perhatian karena lontaran Satya barusan. Hanya Riki yang tetap fokus menonton, anak kecil itu tidak mengerti yang dibicarakan saudaranya.

Jayden membuang pandangan kesembarang arah tidak mau menatap mereka yang menunggu jawaban Jayden.

"Kak Jay jujur sama Jake. Kaka boleh jujur, gak akan ada yang marahin apalagi menghakimi kak Jay kalo jujur. Kak Jay juga bisa mulai cerita apapun, Jake bakal selalu siap dengerin, bukan cuma Jake tapi Satya, Kala, sama Lian siap buat jadi pendengar setia kaka" Jake mencoba memberikan pengertian.

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang