76.A

1K 126 93
                                        

"Mama beneran harus pergi banget sekarang? Gak bisa nanti aja gitu, Jake masih kangen loh, bukan cuma Jake tapi Satya, kak Jay, adek, sama Kala juga pasti masih kangen mama." Ucap Jake sembari terus menempel dengan mama.

Satu jam lalu mereka baru sampai di rumah sakit, setelah sore tadi Arin tiba-tiba ditelepon oleh keluarga Damareno kalo ayah atau kakek dari anak tirinya sedang jatuh sakit.

Arin diminta untuk segera menyusul ke rumah orangtua Damareno yang kini memilih menetap di Singapura sambil membawa anak-anak.

Jadi dengan berat hati Arin harus mengajak mereka semua pulang lebih awal dari rencana, semula mereka akan pulang besok disore hari namun gagal karena Arin harus segera pergi ke Singapura.

Dan malam ini juga Arin harus segera berangkat bersama dengan anak-anak Damareno.

Sejak mereka kembali Jake terus saja menempel pada Arin, tidak mau lepas begitu saja.

Arin sampai harus membujuk putra keduanya agar mengizinkan dirinya pergi.

"Jake, mama cuma sebentar disana. Mama janji sebelum ulang tahun kalian mama udah di Indonesia lagi buat rayain ulang tahun kalian bertiga. Jake mau apa buat hadiahnya? Nanti mama beli disana." Rayu Arin supaya Jake mau melepas rangkulan tangannya.

"Jake gak mau, ma. Jake cuma mau mama disini aja lebih lama sama Jake dan yang lain juga." Tolak Jake.

"Tapi sayang, mama sekarang beneran harus pergi, gak lama cuma sebentar."

"Berapa hari? Ulang tahun kita bertiga tinggal 8 hari lagi. Mama harus pulang 4 hari sebelum itu gimana?" Tawar Jake.

Arin nampak berpikir sebentar, seharusnya 4 hari di Singapura sudah cukup untuk sekedar berkunjung kesana. Jadi ia pikir permintaan Jake bisa dipertimbangkan.

"Emm, oke deh. Mama janji cuma 4 hari disana, sebagai gantinya Jake boleh minta hadiah apapun dari mama."

Jake melepas rangkulan ditangan mama nampak berpikir sebentar, ia juga melirik Satya yang berada tak jauh dari tempatnya duduk hanya diam memperhatikan keduanya.

"Satya sini deh" Jake melambaikan tangan meminta Satya untuk mendekat.

Satya menurut remaja itu kini memilih duduk disamping lain mama.

"Satya mau hadiah apa dari mama?" Tanya Arin.

"Jake dulu Jake dulu. Jake mau handphone keluaran terbaru yang paling mahal, paling bagus. Pokoknya Jake mau itu, handphone Jake sekarang udah jelek."

"Kalo Satya mau apa?"

Satya diam sebentar, lalu menggeleng kecil sebagai jawaban,"Satya gak mau hadiah, Satya cuma mau mama bisa pulang kesini lagi dengan selamat dan peluk Satya lagi."

"Sebelum terlambat"

"Satya cuma minta itu buat hadiah ulang tahun Satya, lagian hp Satya baru, baju, sepatu, tas udah banyak dirumah. Sayang kalo gak dipake, nanti mama atau Jake bisa bantu Satya milihin barang yang udah gak dipake buat kasihin ke yang membutuhkan, ya."

Penuturan Satya barusan terasa janggal ditelinga keduanya, namun karena mereka terlalu berpositif thinking jadi mereka tidak mau ambil pusing.

Mungkin saja Satya memang sedang tidak memiliki keinginan apapun, tapi tenang saja Arin tetap akan membelikan hadiah untuk anak-anaknya selepas pulang dari Singapura.

"Oke, nanti mama bantu buang yang gak dipake, nanti mama isi lagi koleksinya sama yang baru." Ucap Arin.

"Mama harus banget pergi sekarang? Kak Jay, Kala sama adek lagi tidur gak pamitan dulu sama mereka?" Tanya Jake lagi.

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang