Pagi-pagi sekali Riki memilih bangkit dari ranjang, setelah semalaman tidurnya bahkan tidak nyenyak karena rasa sakit di pinggangnya.
Beberapa kali Riki pergi kekamar mandi hanya untuk sekedar memuntahkan isi perutnya.
Dirasa cukup membaik, Riki keluar dari kamar dengan tubuh yang lebih segar setelah mandi.
Anak itu berjalan dengan ceria menuju kamar Jayden seolah tadi malam hanya mimpi buruk yang akan hilang begitu saja setelah bangun.
Baru saja tangannya hendak membuka pintu, Jayden sudah lebih dulu membuka pintu wajahnya juga sudah lebih segar baju piyamanya kini berganti dengan celana trainee dan kaos hitam tak lupa juga topi hitam yang terpasang api dikepala.
"Kak Jay dah bangun? Adek balu aja mau bangunin kak Jay ma yang lain."
"Semalam kenapa adek pindah? Kenapa gak bangunin kaka kalo adek mau tidur dikamar sendiri? Nanti kan kaka bisa temenin adek." Tanya Jayden sembari mengusak surai Riki.
Semalam ia sempat terbangun dan melihat Riki tidak ada disamping, jadi Jayden memutuskan mengecek ke kamar Riki dan mendapati adiknya tengah tertidur lelap dikamarnya sendiri.
"Adek na aja tidul cendili. Kak Jay na kemana? Jam cegini dah bangun."
"Kaka mau keliling sebentar di taman belakang, terus nanti masak buat sarapan baru bangunin yang lain. Adek mau ikut?"
"Boleh, kak Jay ayo keliling kompek ja, katana udala pagi baguc buat nafac. Ayo kak Jay ayo."
Riki menarik tangan sang kaka dengan semangat menuju keluar rumah. Matahari bahkan belum menunjukkan sinarnya tapi mereka berdua terlihat bersemangat saling bergandengan tangan keluar halaman rumah, mengelilingi komplek perumahan sembari sesekali menarik nafas dalam menikmati udara pagi yang segar.
Jayden menarik nafas dalam-dalam walau terasa berat remaja itu tetap menikmati udara segar pagi ini, sudah lama Jayden tidak bisa menikmati udara luar dengan bebas.
Senyuman indah terbit dibibir keduanya, ada perasaan tak terlukiskan yang tidak bisa mereka deskripsikan.
Hingga keduanya berhenti ditaman mendudukkan diri diatas rumput hijau setelah dirasa lelah mulai menghampiri mereka, sembari memandang kedepan menunggu sang mentari muncul dari persembunyiannya.
"Kak Jay tau ndak kemalin adek ke lumah kak Yan. Adek celita banyak ke kak Yan
"Adek cerita apa aja ke kak Ian?"
"Banyak, calah catuna adek minta izin kalo mical nanti adek pelgi ke lumah kak Yan adek mau lumahna camping kak Yan." Ujar Riki membuka percakapan diantara mereka tanpa beban seolah semua mengalir begitu saja.
"Adek-
"Kak Jay, adek mau jujul cama kak Jay tapi kak Jay ndak boleh celita ama yang lain ya." Riki lebih dulu memotong ucapan Jayden menoleh kesamping menatap lekat wajah sang kaka dengan binar cerah dimata.
Jayden sendiri merasa dadanya berdegup kencang ucapan Riki barusan secara tidak langsung membuat ia takut, takut akan semuanya.
"Adek cape tau kak Jay, badan adek cakit cemua dicini cakit dicini uga cakit cemuana." Riki menunjuk beberapa bagian tubuhnya yang terasa sakit terutama bagian pinggang dan perut yang dulu sempat cidera karena pukulan papa.
"adek ndak pelnah bica tidul nyenyak agi, obat na pait, tanganna cakit dicuntik teluc, kalo adek bilang gak kuat gimana? Adek pengen itilahat, tidul yang tenang tanpa cakit."
Jayden menatap lekat wajah Riki yang ceria kini berubah menjadi sendu, gurat lelah terlihat jelas di dahi juga matanya yang sayu tercetak jelas diwajah sang adik, penuturan Riki terdengar jelas mengalun ditelinga tapi lidahnya kelu untuk sekedar membalas atau memberi kekuatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Aktuelle LiteraturSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
