72

1.4K 165 108
                                        

Hari ini Arin memang merencanakan pergi berlibur bersama anak-anak setelah berkonsultasi dengan dokter untuk izin membawa Jayden dan Riki keluar rumah sakit selama dua hari.

Kondisi Jayden lumayan cukup membaik, kondisi Riki juga walau sedikit mengkhawatirkan dokter memberi izin pada Arin membawa Riki keluar dengan catatan harus terus memantau keadaan sikecil dengan ekstra.

Dan hanya dua hari setelah itu baik Jayden ataupun Riki harus kembali kerumah sakit untuk pemeriksaan dan perawatan.

Setelah makan malam kemarin Arin memang sengaja mengajak mereka semua pergi berlibur, bukankah mereka juga butuh hiburan setelah lama terkurung dirumah sakit.

Arin ingin melihat mereka melepas semua bebannya walau hanya dua hari, Arin juga ingin menghabiskan waktu dengan anak-anak lebih banyak walau tidak ada Julian diantara mereka.

Bicara soal Julian Arin sepertinya harus mengunjungi pusara putra kelimanya sebelum pergi berlibur, Arin ingin meminta izin sekaligus meminta maaf karena sampai akhir hidup Julian, Arin tidak sempat mengucapkan kata maaf pada putranya.

Arin hanya mencoba menerima bukan berarti ia senang apalagi ikhlas begitu saja setelah kehilangan Julian, Arin tidak mau Julian sedih disana.

"Mama beneran mau ajak kita semua liburan?" Tanya Jake yang kini sedang duduk bertiga dengan Satya dikantin rumah sakit.

Arin mengangguk,"Mama udah konsultasi sama dokter buat ajak dek Iki sama Jay keluar rumah sakit selama dua hari. Jake gak usah khawatir, mama udah persiapin semua kebutuhan kalian. Besok pagi kita berangkat."

Jake menimang sebentar perkataan Arin, kalo boleh jujur Jake tertarik dengan rencana Arin untuk liburan, terakhir kali mereka berlibur rasanya tidak menyenangkan apalagi ada tante Mira ditambah tragedi Riki yang hampir tenggelam.

Mengingatnya saja Jake tidak ingin, selain itu hubungan dirinya dan Jayden sedang buruk-buruk nya jadi ia merasa tidak mau mengingat momen liburan mereka beberapa bulan lalu.

"Hmm.. Jake setuju, mama tumben banget mau ajak Jake liburan?" Tanya Jake sembari meraih gelas dan menyedot jus jeruk yang baru saja datang.

"Karena mau aja gak ada alasan lain, lagian mama bukan niat mau ajak Jake, tapi mau ajak Satya liburan, lihat wajahnya kusut kayak orang punya banyak utang." Canda Arin, Jake sama sekali tidak merasa sakit hati.

Memang Arin seperti itu, dibanding orangtua Jake rasanya seperti sedang bersama seorang teman jika dengan mama. Walau terkadang mama terlihat seperti mama diwaktu tertentu.

"Ck, kebiasaan. Mama bosen ya punya Jake?" Kesal Jake bukan berarti ia sakit hati.

"Bukan bosen lagi, bosen banget. Tapi kalo jauh mama kangen si, mama juga kangen sama Satya dibanding Jake mama lebih kangen Satya." Ucap Arin sedikit ditekan sembari melirik Satya yang terus saja menunduk.

Jake menyenggol lengan Satya disamping yang terus menunduk, bahkan ucapan mama barusan sepenuhnya diabaikan oleh Satya.

"Satya, kamu gak suka mama besok ajak liburan?" Tebak Arin karena Satya seolah tidak seexcited Jake barusan saat dirinya mengajak berlibur.

Bahkan malam saat Arin ingin mengajak mereka berlibur pun Satya langsung murung.

"Satya?" Panggil Arin.

Satya akhirnya memberanikan diri melirik kearah mama, lalu secepat kilat kembali menunduk ternyata Satya tidak seberani itu menatap mama.

"Satya kenapa, nak?" Tanya Arin langsung bangkit menuju kesisi Satya dan meminta Jake untuk bertukar tempat.

Jake menurut, ia memberikan ruang untuk mama lebih dekat dengan Satya. Sebab Jake juga merasa Satya lebih sering murung semenjak bertemu dengan mama.

Satya menggeleng pelan,"Satya..engga."

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang