Setelah kejadian di dapur tadi, Jake terus saja mengurung diri di kamar. Jake sempat berhalusinasi, mengira ketiga saudaranya berada di dapur.
Dalam pikirannya, Jake melihat kedua adiknya mendekat dengan senyum bahagia menuntun dirinya dengan lembut menuju meja makan. Jayden juga tampak begitu sehat membawakan piring ke depannya dengan penuh perhatian.
Padahal dalam mata Sebastian dan yang lainnya, kenyataannya sungguh jauh berbeda. Jake hanya berdiri mematung di depan ruang makan dengan tatapan kosong, seperti kehilangan arah, seolah dunia berhenti berputar untuk selamanya.
Tidak ada lagi binar bahagia atau semangat yang selalu dipancarkan dalam diri Jake.
Jake selalu yakin bahwa semua akan baik-baik saja selama saudara-saudaranya ada bersama dirinya. Tidak peduli sesulit apapun masalah dalam keluarganya Jake sanggup menghadapi semua itu sebab mereka adalah sumber kekuatan dan harapan yang Jake punya.
Tapi sekarang setelah kepergian ketiga saudaranya sekaligus. Jake nampak putus asa, binar di matanya redup seolah tidak ada lagi cahaya disana.
Mungkin saja jika mati tidak dosa. Jake lebih baik mati menyusul mereka daripada hidup namun seperti orang mati.
"Jake, ayo makan dulu. Kamu belum makan dari kemarin malam." Bujuk Sebastian tangannya terulur mengusap punggung belakang Jake.
Tak jauh dari sana Nadelo nampak diam berdiri mengamati interaksi Sebastian dengan sepupunya. Ditangannya terdapat nampan berisi bubur juga teh manis hangat untuk Jake.
"Jake makan dulu ya. Nanti kamu sakit, kasian perut kamu juga harus tetep dikasih asupan." Bujuk Sebastian sekali lagi.
Namun Jake sama sekali tidak bergeming seolah kehadiran Sebastian dan Nadelo dikamarnya hanyalah sebatas bayangan semu.
Nadelo ikut prihatin melihat kondisi Jake yang terus saja diam dengan pandangan kosong. Nadelo tahu betul rasanya menjadi Jake, tidak ada semangat hidup apalagi sekedar untuk makan.
Tapi Nadelo juga tidak tega kalo Jake sampai tidak makan. Bagaiamana jika nanti sepupunya jatuh sakit?
Lalu siapa yang akan menemani Sakala nantinya kalo Jake juga menyerah dengan kehidupan.
Tadi sore Nadelo ditelepon kembarannya jika kondisi Sakala belum kunjung mengalami perubahan. Cidera di kepalanya cukup parah.
Dokter meminta keluarga bisa menerima apapaun kemungkinan yang terjadi. Angka harapan hidup Sakala jauh di bawah rata-rata.
Sejauh ini Jake ataupun Hilmi belum tahu kebenaran perihal kondisi Sakala. Mereka masih larut dalam duka.
Nadelo tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi mereka berdua mendengar kondisi Sakala yang jauh dari kata baik.
Perlahan Nadelo mendekat, menyimpan nampan di samping nakas. Dirinya kemudian ikut berjongkok didepan Jake yang masih saja diam.
Tangannya lantas terulur menangkup tangan sepupunya yang nyaris dingin tanpa kehangatan, mengelus pelan penuh perhatian.
Jake yang semula menunduk sedikit mengangkat pandangan, menatap Nadelo sepupunya yang jauh lebih muda 3 tahun dengan tatapan kosong.
"Jake." Panggil Nadelo pelan. Sebastian di samping hanya diam menunggu apa yang akan dilakukan Nadelo untuk membujuk sepupunya.
"Makan sedikit ya? Jake gak boleh hukum diri Jake kayak gini. Jake tau? Jay, Satya sama Riki paling gak suka liat Jake murung kayak gini. Ayo makan sedikit aja." Bujuk Nadelo, mata Jake sedikit bergerak samar mendengar nama ketiga saudaranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Fiksi UmumSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
