39

1.3K 133 93
                                        

Tidak peduli seberapa keras Jayden berusaha mendekati Hilmi untuk berbicara dari hati ke hati atau sekedar meminta maaf setelah yang terjadi terakhir kali Hilmi selalu memiliki alasan untuk menolak percakapannya dengan Jayden.

Dua hari lalu Jayden kembali dipertemukan dengan Arin digerbang sekolah seusai jam ujian berlangsung.

Arin tanpa perasaan menarik Jayden menyuruhnya masuk kedalam mobil membawa sang putra sedikit menjauh dari ruang lingkup sekolah hingga mobil yang dikendarai Arin berhenti didepan sebuah cafe bergaya vintage.

Arin turun dari dalam mobil diikuti Jayden dibelakang memasuki cafe yang kini lumayan sepi hanya ada 2-3 pengunjung yang berada disana.

Arin memilih kursi paling pojok memanggil waiters memesan minum untuk dirinya juga sang putra.

Tidak ada percakapan diantara mereka, Arin sibuk membuka ponsel miliknya dan Jayden menunduk sibuk memilin jari-jarinya dibawah meja, ia tidak tau harus memulai percakapan darimana.

Sampai pesanan tiba mereka masih saling terdiam, Arin lantas mengambil coffee latte pesanannya menyeruput minumannya dengan anggun.

Arin kembali menyimpan minumannya kemeja, berdehem pelan untuk mengurangi rasa canggung diantara keduanya.

"Kamu gak minum?" Tanya Arin membuka percakapan lebih dulu.

Jayden mendongak menatap mama didepan lalu bergantian melirik gelas coffee pesanan mama untuknya.

"Jay bukan Jake yang suka coffee" jawab Jayden setelah menyadari minuman didepannya mungkin coffee kesukaan Jake yang Jayden lupa namanya.

"Ah benar, saya lupa. Biasanya Jake memesan caramel machiatto setiap kali saya mengajak Jake pergi kesini" ucap Arin tanpa sadar menyakiti hati mungil Jayden.

Sesuka itukah mama pada putra keduanya sampai saat mama pergi dengan Jayden pun mama hanya mengingat minuman kesukaan Jake. Arin bahkan tidak meminta maaf atau memesan ulang minuman untuknya.

"Jake bilang Hilmi akan menikah, benar?" Arin kembali melanjutkan pembicaraan mereka.

Dari awal Arin memang hanya ingin membahas tentang hal ini dengan Jayden, ia tidak sudi duduk berdua bersama sisulung kalo tidak ada hal yang ingin dia bicarakan.

Jayden hanya mengangguk pelan sebagai jawaban atas pertanyaan Arin.

"Dia sekretaris Hilmi?"

Jayden mengangguk lagi.

"Apa dia baik?"

Jayden sedikit mengerutkan alis bingung saat mama bertanya seperti itu, lagipula apa peduli mama kalo Mira baik atau tidak.

Mendapati kebingungan diwajah sang putra Arin menghela nafas pelan,"Saya nanya dia baik atau gak karena takut Jake bakal kena imbas dari pernikahan papamu itu. Saya cuma gak mau anak kesayangan saya terluka. Dan satu lagi papamu udah pasti bodoh jika sudah jatuh cinta"

Tepat sekali, apa yang dikatakan Arin memang kenyataan. Hilmi selalu nampak bodoh jika sudah jatuh cinta.

Selain itu yang membuat Jayden lebih sakit adalah fakta kalo mama hanya mencemaskan Jake selaku putra kesayangannya tanpa peduli anak-anak yang lain.

Dari awal pertemuan Arin dengan Jayden ditaman rumah sakit, Arin tidak pernah bertanya bagaimana kondisi Jayden atau putranya yang lain.

Apakah Arin benar-benar sudah tidak peduli bagaimana keadaan mereka?

"Mama hanya mengkhawatirkan Jake?" Pertanyaan itu lolos dari bibirnya tanpa dipinta membuat Arin sedikit tertegun namun dengan cepat wanita itu tersenyum kecil.

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang