Dari sekian banyak rasa sakit dan luka yang menggores penuh hati Satya adalah saat dimana orang yang selama ini Satya hormati merendahkan dirinya dengan hebat.
Seseorang yang seharusnya bisa menjadi rumah untuk Satya pulang nyatanya adalah yang paling membuat sakit baik fisik maupun batin.
Di gelapnya malam, juga kamar yang nampak gelap remaja itu termenung memeluk lututnya di sudut ruangan kala suara bising dipikirannya terus memenuhi telinga.
Semua makian, hinaan, ujaran kebencian, dan segala kenangan buruk dimasa lalu ikut menyergap membobol pertahanan seorang Satya Galaksi dengan membabi buta.
Satya menutup kedua telinganya dengan kencang berharap suara-suara itu menghilang, namun bukannya menghilang suara itu kian bising memekakan telinga.
Sedikit demi sedikit rematan di telinganya berubah menjadi pukulan kencang, menjabak rambut hingga beberapa helai tercabut.
Tapi hal itu sama sekali tidak mengurangi suara bising yang terus menyalahkan Satya atas apa yang tidak pernah ia lakukan.
Teriakan papa menggema di telinga membuat kepalanya sakit, pukulan papa dipipi hingga sudut bibirnya robek masih terasa panas.
"Bukan Satya.. Bukan...pergi..Semua itu bukan Satya... PERGIII!!
Remaja itu memukul kepalanya sendiri dengan kencang, hingga pintu kamar yang semula Satya kunci kini dibuka paksa menampilkan Jake dengan nafas yang tersengal-sengal, raut khawatir terlihat jelas.
Jake tanpa ragu menyalakan lampu di kamar Satya, berlari menghampiri sang kembaran menahan lengan adiknya agar berhenti memukul kepalanya sendiri.
"Satya cukup, ini abang, Satya. Berhenti pukul kepala nanti sakit." Ucapan Jake seolah angin sama sekali tidak dihiraukan oleh sang empu.
Satya masih sibuk dengan kegiatannya menjambaki rambut, Jake menarik paksa tangan Satya untuk berhenti.
Jake tidak bisa melihat Satya seperti ini, ingatannya seolah kembali terlempar ketika mereka berusia 10 tahun, bagaimana Satya dulu juga seperti ini nyaris gila.
"Satya udah, berhenti. Abang tau Satya gak mungkin ngelakuin hal bejat kayak gitu, abang percaya sama Satya. Jangan kayak gini abang mohon."
Jake tidak tau harus bersikap seperti apa untuk membuat Satya percaya kalo Jake ataupun Jayden kecuali papa percaya Satya tidak pernah melakukan hal keji seperti itu.
Baik Jake maupun teman-temannya seratus persen siap membantu membersihkan nama Satya yang tercoreng karena oknum jahat yang ingin menjatuhkan mereka.
Satya menangis tanpa suara, cengkraman di lengannya perlahan meluruh saat tubuhnya mulai lemas karena terlalu banyak menanggung beban berat dan segala hinaan orang-orang padanya.
Jake dengan sigap memeluk Satya, memberikan kekuatan dan kepercayaan kalo Satya tidak sendiri didunia ini.
Satya punya Jake dan yang lain untuk membantunya keluar dari kondisi sekarang.
Jake mengelus punggung adiknya yang bergetar, tatapan kosong terpancar dari mata Satya seolah tidak ada lagi tujuan dan semangat untuk membela diri.
"Satya jangan takut ada abang disini. Satya gak sendiri." Ucap Jake mencoba memberi kekuatan pada Satya.
Tadi Hilmi pulang kerumah dengan emosi yang berapi-api, membanting pintu rumah dengan keras lalu menarik Satya yang tengah duduk santai bersama Sakala juga Riki diruang keluarga menemani kedua adiknya bermain ular tangga dengan kasar.
Tanpa aba-aba Hilmi langsung menampar Satya dengan kencang sampai putra ketiganya itu jatuh tersungkur kelantai, sudut bibirnya bahkan mengeluarkan darah menandakan seberapa kencang Hilmi menampar pipi putranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
General FictionSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
