85

993 136 68
                                        

Cuaca siang ini lebih dingin dari biasanya, matahari seolah enggan muncul, langit terlihat begitu mendung namun tak kunjung turun hujan sejak pagi.

Angin melambai lebih kuat beberapa helai daun kering jatuh menyentuh tanah

Sakala dan Jayden sesekali menunduk menghindari angin juga daun yang ikut bersentuhan dengan wajah mereka.

Suasana pemakaman cukup sepi mengingat masih jam kerja hanya ada segelintir orang yang mungkin saja berkunjung mendoakan saudara mereka yang telah tiada.

Sakala melepas genggaman tangan Jayden berlari kecil untuk sampai ke depan pusara Julian.

Sakala lantas berjongkok, mengulurkan tangan mengusap nama Julian sembari menutup mata melantunkan doa untuk ketenangan Julian di alam sana.

Jayden ikut berjongkok disebrang Sakala, melakukan hal sama mendoakan Julian dalam hati.

"Lian yang tenang disana ya, tapi Lian bisa gak ajak Kala kesana? Orang-orang disini jahat sama Kala."

"Lian, kaka selalu berdoa untuk kebaikanmu disana. Lian anak baik, kaka harap Lian bahagia disana, kaka akan terus berjuang disini. Lian juga doain kaka ya semoga kaka kuat sampai akhir."

Bersamaan dengan itu gemuruh petir muncul di langit, Jayden lebih dulu membuka mata memperhatikan sekitar yang mungkin sebentar lagi akan turun hujan.

Jayden beralih menatap Sakala yang masih saja fokus berdoa seolah tidak ada yang bisa mengganggu kekhusyuannya berdoa untuk Julian.

Beberapa menit berlalu, Sakala akhirnya membuka mata bersamaan dengan air mata yang ikut turun melewati pipinya yang sedikit tirus.

"Kaka, Lian bahagia disana, kan?" Celetuk Sakala dan Jayden mengangguk sebagai jawaban.

"Kata orang, anak baik selalu dipanggil Tuhan lebih dulu, berarti Kala gak baik ya makanya Tuhan gak panggil Kala bareng Lian?"

"Bukan begitu konsepnya, Kala anak baik tapi gak semua anak baik dipanggil Tuhan lebih dulu. Ada juga anak baik yang terus menjalani kehidupan sampai mereka dewasa sukses meraih cita-cita yang mereka inginkan. Anak baik akan selalu memiliki akhir yang baik apapun jalan dan kesulitan yang mereka tempuh, karena Tuhan percaya anak baik adalah anak yang kuat, tidak putus asa dan tidak akan pernah mengkhianati Tuhannya." Ucap Jayden dengan senyum manis yang terus terpatri, tangannya terulur mengusak rambut Sakala.

"Benarkah? Kalo gitu Kala masuk anak baik yang bakal sukses? Atau Kalo Kala pilih ikut Lian, Kala bakal tetep jadi anak baik ga? Bang Babas bilang Kala cuma orang gila yang bikin Lian mati, Kala cuma beban karena ngerepotin terus paman Harlan, nenek juga bilang Kala anak nakal gak mau nurut sama nenek, tante Mira juga sama. Kak Jay kenapa ya sekarang semua orang jahat sama Kala?" Lirih Sakala, bibirnya bergetar menahan tangis.

Sakala tidak sanggup menanggung kebencian banyak orang padanya, Kala lahir dengan kasih sayang dan cinta. Dia tidak pernah tumbuh dalam kebencian.

Dulu semua orang memperlakukan Sakala seperti berlian yang akan hancur jika digores sedikit saja, tapi semua berubah hanya dalam waktu singkat menyalahkan Sakala atas apa yang terjadi pada Julian.

Orang-orang balik membenci Sakala, papa yang tidak pernah memeluk dan menegurnya menjadi tolak ukur untuk Sakala menyadari apa kesalahan yang sudah ia buat.

Mendengar penuturan Sakala Jayden langsung bangkit berjalan ke sisi sang adik, lalu menarik Sakala kedalam dekapannya,"Kenapa Kala bilang gitu, masih ada kaka yang selalu ada disamping Kala. Kaka gak pernah ninggalin Kala begitupun yang lain, Kala percaya kan?"

Sakala membalas pelukan Jayden, menyembunyikan wajah didada sang kaka dan kembali menangis hebat disana, menumpahkan semua rasa yang mengganggu hati dan pikiran.

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang