Sore hari Satya kembali duduk termenung didepan ruangan Riki setelah pulang mengantar Jake yang sibuk menyiapkan pesta ulang tahun untuk mereka nanti.
Jake bahkan benar-benar pergi ke toko kue memesan kue ulang tahun paling bagus dan cantik untuk mereka terkhusus Jayden dan Riki.
Satya tau Jake hanya ingin memberikan sedikit kebahagiaan lewat perayaan ulang tahun, tapi dimata Satya sang abang seolah mencoba ikhlas.
Perayaan ulang tahun, kue ulang tahun, dan semua kado yang mereka siapkan apakah itu akan berarti?
Satya memilih bangkit mendekati ruangan Riki memperhatikan dalam diam ke tempat dimana adik kecilnya tengah berbaring tidak berdaya lewat jendela kecil yang memang disediakan disana.
Satya tidak berani masuk daripada harus merasakan dinginnya ruangan ia lebih memilih kedinginan setia menunggu didepan ruangan.
"Adek, kaka mohon ayo bangun. Coba liat abang, dia udah banyak ngeluarin tenaga sama uang buat beliin banyak hadiah buat adek ada sepatu, tas, mainan, makanan semua kesukaan adek." Lirih Satya yang tidak mungkin bisa didengar oleh Riki karena ia berada diluar ruangan.
Sekali lagi Satya tidak berani masuk kedalam.
Tangannya terulur menyentuh jendela kaca didepan mengelusnya perlahan seolah ia sedang menyentuh sang adik.
"Adek tau, kaka beneran gak berani deketin adek, kaka takut adek bakal kesakitan kalo kaka ganggu tidur panjang adek. Adek harus bangun kaka masih disini nunggu adek, semesta mungkin kasih waktu buat kaka nemenin adek lebih lama walau disisi lain kaka juga berpacu sama waktu yang kak Jay punya." Lirih Satya setetes air mata juga ikut beranak sungai di pipinya.
Beruntung suasana disekitar sepi, hanya ada beberapa perawat yang berlalu lalang tanpa menghiraukan Satya yang berbicara sendiri didepan pintu.
"Pokoknya adek harus janji sama kaka pas ulang tahun adek harus bangun nanti kita tiup lilin bareng, kalo adek gak bangun juga kaka gak bakal mau nemenin adek lagi dirumah sakit." Ancam Satya berharap adiknya akan bangun sebelum ulang tahun mereka tiba.
Satya cukup lama berdiri didepan sana, menatap Riki yang tengah terbaring tak berdaya didalam ruangan sampai bahunya terasa ditepuk oleh seseorang.
Satya berbalik mendapati salah satu teman papa yang tidak terlalu ingat namanya, tapi Satya sempat beberapa kali bertemu.
Satya bukan Jake yang selalu berusaha mengingat semua rekan bisnis papa membuat image baik didepan mereka, Satya tampil apa adanya kalo tidak ingat ya sudah tidak ingat.
"Satya, kan? Bisa kita bicara sebentar."
Satya memiringkan mata, untuk apa bicara dengannya mereka bahkan tidak saling mengenal untuk saling mengobrol.
"Maaf tapi tuan siapa ya? Ada perlu apa tuan sama Satya?"
Lelaki di depannya itu hanya tersenyum kecil, menarik pelan tangan Satya untuk duduk dikursi panjang yang memang tak jauh dari tempat mereka.
Satya hendak melepas genggaman tangan pria itu ditangannya, tapi lelaki itu begitu erat memegangi tangannya.
"Saya kesini ingin bicara denganmu sebentar, apa kau lupa denganku?"
"Maaf tapi Satya bukan Jake yang selalu ingat teman-teman papa, tuan siapa ya?"
"Ray, Raynal. Kau ingat?"
Satya memproses nama yang barusan lelaki itu ucapkan, terlalu banyak hal yang terjadi membuat Satya sedikitnya melupakan rentan waktu yang pernah terlewat, terlebih lagi dengan seseorang yang kini berada di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
General FictionSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
