Setelah Harlan memberikan ceramah panjang kali lebar pada Hilmi, lelaki itu memang mengunjungi Riki sekedar menengok sebentar lalu keluar, kembali keruang rawat Jayden mengunjungi sisulung yang nampak tenang dalam tidurnya.
Harlan memang pergi kerumah sakit sendiri setelah acara pernikahan selesai, Mira tidak ikut karena alasan lelah setelah seharian berdiri menerima tamu undangan.
Ariyani dan Abigio juga tidak ikut, sebab Ariyani yang kelelahan setelah acara membuat Abigio harus menunda kunjungannya kerumah sakit.
Di samping brangkar Jayden, Julian duduk dikursi sembari tertidur merebahkan kepalanya dibrangkar, menggenggam tangan Jayden yang terbebas dari infus.
Disofa Satya juga nampak tertidur pulas dengan selimut yang menutupi tubuhnya sebatas leher. Hati kecil Hilmi sedikit tergerak melihat mereka yang seperti kelelahan namun tetap saling menguatkan satu sama lain.
Atensi Hilmi teralihkan saat mendengar Jayden mengigau, memanggil papa dalam tidurnya, remaja itu nampak gelisah.
Hilmi berjalan mendekat, bisa dilihat putra sulungnya itu terus meracau memanggil papa berulang kali.
"Papa..
"Papa..sakit..pa..
Hilmi menyentuh pelan kening sisulung saat hawa panas menjalar ditelapak tangannya. Hilmi segera memencet tombol di atas brangkar memanggil perawat atau dokter untuk segera datang.
Hilmi menggenggam tangan Jayden yang dipasang infus, mengelus kening Jayden sembari membisikkan beberapa kalimat.
"Jay tenang ya, ada papa disamping Jay"
Ajaib, hanya dengan beberapa kalimat Jayden berhenti mengigau dan kembali tenang.
Bersamaan itu dokter dan perawat akhirnya datang untuk memeriksa.
"Dok, anak saya demam" jujur Hilmi saat dokter bertanya.
Sang dokter mengangguk mengerti dan langsung memeriksa keadaan pasien.
Hilmi menyingkir memudahkan dokter untuk memberikan penanganan, ia juga berjalan kesisi lain menggendong Julian pelan.
Anak itu sempat terbangun merasa sedikit terganggu, namun Hilmi langsung menenangkan Julian dan menyuruhnya kembali tertidur.
"Kak Jay!" reflek Julian memperhatikan sekitar dengan linglung matanya bahkan belum terbuka lebar, tidak menyadari papa yang menggendongnya.
"Sttt tenang ya, kak Jay gak papa. Lian tidur lagi aja" ujar Hilmi.
Julian sekarang baru menyadari kalo dirinya berada dalam gendongan papa. Tadi Julian sempat merasa khawatir dan cemas saat tidurnya terganggu, takut kak Jay kambuh atau sebagainya.
Namun, karena ucapan papa Julian menurut untuk kembali tertidur, entahlah ia merasa percaya sekaligus tenang saat ternyata papa bersamanya.
"Papa" panggil Julian pelan, kesadarannya kini berada diantara mimpi dan realita.
Hilmi masih menggendong Julian, menimangnya kekanan dan kekiri agar Julian kembali tertidur, sesekali ia juga mengusap punggung belakang sang putra.
Hilmi juga baru menyadari Julian kini terasa lebih ringan saat ia menggendongnya, pipi tembamnya juga mulai menghilang, raut lelah nampak jelas diwajah anak kecil berusia 8 tahun itu.
"Sebenernya Lian sedih" ucap Julian tanpa sadar.
"Lian bakal kehilangan papa" racaunya.
Hilmi tertegun sejenak, namun ia memilih diam mendengarkan racauan Julian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Ficción GeneralSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
