Tiga hari setelah kepergian Jayden dan Satya, dua hari telah berlalu semenjak Riki menyusul kedua kakanya.
Disinilah Jake pagi ini, berdiri didepan empat pusara mendiang saudaranya. Remaja berusia tujuh belas tahun yang tidak sempat merayakan ulang tahun bersama kedua kembarannya memilih keluar rumah di pagi-pagi buta menapakkan kaki yang hanya dibalut sendal rumah demi mengunjungi rumah baru saudara-saudaranya dengan berjalan kaki.
Suasana pemakaman masih sangat sunyi mengingat ini masih terlalu pagi. Matahari bahkan masih malu-malu menampakkan sinarnya, tapi Jake sudah berdiri tegak disana.
Jake melangkah perlahan menghampiri pusara kecil yang tampak masih basah. Tanahnya belum benar-benar mengering, dan bunga-bunga segar menghiasi di atasnya, mengingat baru kemarin raga kecil tak berdosa itu di kebumikan.
Ia berlutut pelan, tangannya terulur, mengusap papan nama kayu bertuliskan,
Riki Angkasa Purnama
Putra
Hilmi Barata Purnama
Nama itu kini terpatri dalam benaknya sebagai luka yang tidak akan pernah menemukan obatnya. Tidak pernah ada dalam benak Jake bahwa Riki, adik kecilnya yang selalu bersikap manja akan pergi meninggalkan Jake terlebih dahulu tanpa mengatakan kalimat perpisahan.
Helaan nafas berat keluar dari bibirnya. Kepalanya menunduk menahan air mata yang sejak tadi menggantung dipelupuk mata. Tangannya meremat kuat sisi papan nama Riki dengan erat.
Lagi. Perasaan bersalah dan penyesalan itu kembali mencuat, memenuhi luka dalam dirinya yang sudah terlalu penuh.
Jake tau dia bukan saudara yang baik. Dia masih punya banyak kekurangan. Daripada sisi baik Jake lebih banyak memiliki sisi jahat. Sikap dingin, arogan, kata-kata kasar terutama pada Jayden dan Riki, juga jarak yang coba ia ciptakan semuanya kembali seperti bayangan gelap yang menghantuinya.
"Abang harus apa, dek?" Lirihnya penuh dengan rasa putus asa.
"Rasanya sakit di sini." Jake menunjuk dada kirinya, menghantam pelan seolah ingin menujukkan rasa sesak yang bersarang di dada.
"Abang harus apa biar adek bisa peluk abang lagi... Abang gak bisa hidup... Abang gak tau gimana hari-hari abang selanjutnya tanpa adek juga yang lain..." Air mata akhirnya mengalir deras melewati pipi Jake yang terlihat lebih tirus dari terakhir kali.
Jake bahkan dengan kuat menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan suara tangisannya agar tidak meledak. Dia tidak peduli lagi rasa perih yang muncul akibat luka dibibir, yang semakin dalam karena terlalu keras ia menggigitnya.
Hening.
Sampai 20 menit berlalu Jake masih bertahan di posisi yang sama dengan kepala menunduk di samping pusara Riki.
Lalu dengan gerakan pelan ia bangkit, berjalan ke sisi pusara Satya. Kali ini Jake tidak mengusap papan nama kayu Satya seperti yang dilakukan pada Riki.
Melainkan Jake memilih memukul-mukul permukaan tanah basah hingga membuat tangannya kotor dengan tanah.
"Jahat... Kamu jahat, Satya." Suaranya bergetar seolah penuh dengan emosi.
"Bisa-bisanya Satya ninggalin abang sendirian disini, hah?!"
Jake terus memukuli permukaan tanah, seolah ingin melampiaskan semua emosi dalam dirinya.
"Harusnya kamu gak pergi, Satya. Kamu janji mau rayain ulang tahun kita bareng-bareng sama kak Jay. Bahkan kue yang kita pesan semua pilihan Satya. Hadiah, pernak-pernik semuanya masih disana. Tapi Satya tega ninggalin abang disini. Satya bilang udah siapin hadiah terbaik, apa ini hadiah yang Satya maksud, hah?!" Suaranya bergetar hebat. Setiap kalimat yang ia ucapkan terasa menusuk di setiap helaan nafas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
General FictionSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
