87

1.2K 148 66
                                        

Jake tertidur di samping ranjang Jayden, merebahkan kepalanya yang sedikit berdenyut diranjang pesakitan karena terlalu banyak menangis, tangannya setia menggenggam tangan Jayden yang terbebas dari selang infus.

Tanpa diduga tangan itu sedikit bergerak, mengejutkan Jake yang langsung terbangun lalu berdiri dengan gerakan kilat membuat kepalanya berputar saat itu juga.

Jake berpegangan pada ranjang, berkedip dua kali mencoba fokus sebab matanya kini terasa berbayang memperhatikan tangan sang kaka memastikan kalo tadi bukanlah mimpi jika kakanya benar-benar memberikan respon.

Perlahan mata itu yang setia terpejam sejak semalam akhirnya terbuka. Jake tersenyum kegirangan memanggil dokter dengan lantang untuk memastikan kakanya baik-baik saja.

Jake terus mengucapkan banyak kalimat syukur dalam hati setelah Jayden membuka mata, kondisinya memang belum bisa dikatakan membaik tapi sebuah kemajuan bagus Jayden akhirnya sadar.

Jake tersenyum lega mendekati ranjang Jayden, memeluk kakanya dengan penuh haru.

Sedangkan Jayden tidak membalas pelukan Jake, bukan karena enggan namun tubuhnya yang terasa berat dan sakit disetiap inci untuk bergerak sedikit saja rasanya Jayden tak kuat.

"Terimakasih...terimakasih kak Jay...

Setelah itu Jayden dipindahkan ke ruang rawat, Jake langsung memberi kabar bahagia itu pada semua orang kalo Jayden akhirnya dipindahkan ke ruang rawat setelah berhasil melewati masa kritisnya.

Satya dan Sakala yang mendengar langsung berlari meninggalkan ruangan Riki menyusul Jayden yang masih memilih untuk bersama mereka.

Pintu ruangan bergeser, Jake setia duduk disamping brangkar Jayden menoleh kearah pintu dimana Satya dan Sakala beserta Lembayung masuk kedalam ruangan.

Senyum lega mereka semua torehkan, mendapati Jayden yang kini tersenyum lemah pada mereka.

Sakala mendekat menyentuh tangan sang kaka dan menciuminya beberapa kali serta ungkapan syukur yang terus anak itu panjantkan.

Satya menangis terharu tanpa banyak kalimat ia menerjang tubuh Jayden, tidak terlalu erat sebab Satya tau Jayden mungkin akan merasa kesakitan jika ia memeluknya terlalu erat.

"Kaka terimakasih, terimakasih karena kaka memilih kembali. Satya benar-benar takut tau ga? Kaka lagi ngapain sii sendirian di jalanan?" Omel Satya setelah mendengar penjelasan Sebastian bagaimana sepupunya itu bisa menemukan Jayden dijalan di tengah hujan deras.

Jayden tidak menjawab hanya tersenyum kecil, tenggorokannya sakit jadi ia tidak yakin suaranya akan terdengar atau tidak jika ia bicara.

"Satya jangan nanya Jay dulu. Biarin Jay istirahat." Ucap Lembayung mengerti ekspresi Jayden yang nampak kesulitan bahkan untuk sekedar bicara.

Sebab Lembayung tahu betul bagaimana sulitnya bahkan untuk sekedar bicara dikondisi seperti ini.

Menyadari hal tersebut Satya melepas pelukan, menatap kaka dengan raut bersalah.

"Maaf, Satya berisik ya."

Jayden menggeleng lemah,"ga..papa..

Tidak ada yang bersuara, Lembayung juga izin kembali menemani Sebastian yang tadi dipaksa untuk tetap diam menunggu Riki didepan ruangan sepupu terkecil mereka.

Walau terkesan ogah-ogahan Sebastian tetap menurut, pemuda itu juga memilih semalaman menunggu dirumah sakit diam-diam menunggu kabar terbaru sepupunya, Jayden.

"Jay istirahat aja, jangan terlalu banyak gerak. kak Bayu mau balik ke ruang Riki. Nanti kak Bayu kesini lagi." Lembayung menyempatkan diri mengelus surai Jayden dengan pelan, tersenyum kecil seolah mengatakan kalo Jayden anak yang kuat dan semua akan baik-baik saja.

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang