Bagi sebagian orang bahagia adalah saat mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dan mewujudkan sesuatu yang sudah lama mereka impikan.
Seperti itulah hal yang dirasakan Satya saat ia mendapat kabar bahwa dirinya memiliki organ yang cocok dengan Jayden.
Satya sama sekali tidak menyesali keputusannya memberikan kehidupan baru untuk Jayden, justru ia ikut bahagia.
Hanya ada satu yang mungkin membuat Satya menyesal karena ginjalnya yang tidak cocok dengan Riki.
Seandainya cocok, Satya akan dengan rela mendonorkan ginjalnya untuk Riki. Kalo pun bisa Satya ingin mendonorkan organ lainnya yang mungkin bermanfaat untuk orang lain.
Satya hanya ingin akhir hidupnya berguna dan bermanfaat untuk orang lain. Tekad Satya sudah bulat ia ingin memberikan kehidupan baru untuk Jayden dan juga yang lainnya.
Di lorong rumah sakit yang sepi Satya berjalan dengan langkah santai, tidak ada hal yang lebih bahagia selain menanti hari itu tiba.
Hari dimana Jayden akan sembuh sepenuhnya.
Dengan senyum yang terus merekah Satya berjalan mengitari rumah sakit, menyapa beberapa perawat juga pasien yang tak sengaja ia temui.
Tujuh hari lagi ulang tahun sikembar, Satya sengaja menyempatkan diri menyiapkan hadiah disela-sela kesibukannya mengurus mereka dirumah sakit.
Ngomong-ngomong Satya rindu sekali suasana rumah, Satya hampir lupa bagaimana kehangatan rumah mereka.
Dan lagi apa rumah itu masih bisa disebut rumah?
Apa Satya masih bisa diberikan kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama dirumah mereka? Sekedar menonton televisi bersama pun tidak masalah.
"Satya!!"
Suara panggilan tersebut membuat Satya reflek menoleh, ekspresi terkejut Satya buat saat melihat semua teman-temannya mengunjungi dirinya dirumah sakit.
Deris lebih dulu berlari memeluk sang sahabat dengan erat,"Lo kemana aja? Gue telepon, gue chat kagak bales mati lo."
"Hp gue dibawa maling. Lepas bego sesek gue gak bisa nafas." Satya mencoba melepas pelukan Deris yang masih memeluk dirinya dengan erat.
"Deris kangen noh, btw lo gak kangen gue ni?" Tanya Eric menarik Deris dari pelukan Satya, lalu bergantian dirinya yang memeluk Satya dengan erat.
Nino, Geon yang sejak tadi diam ikut maju memeluk Satya, jadi keempatnya saling berpelukan seperti teletubies, disusul Deris yang juga ikut bergabung.
Denis disana hanya diam tersenyum maklum melihat mereka yang saling melepas rindu, ia memang kenal Satya tapi mereka tidak sedekat itu. Bisa dikatakan Denis lebih dekat dengan Jayden.
"Ekhmm, gue disini gak transparan ya. Mending Satya tunjukkin gue jalan dimana ruang rawat Jayden. Gue pengen nimpuk tuh bocah karena gak pernah ngasih kabar ke gue."
Satya yang baru sadar ada Denis disana, langsung melepas pelukan mereka lalu melangkah berniat menujukkan jalan pada Denis untuk sampai ke ruangan Jayden.
Mereka semua juga ikut mengekor di belakang. Lagian mereka kesini juga kan mau menjenguk Jayden yang sakit.
"Jay, udah lama dirawat? Dia beneran gak bakal lanjut sekolah?" Tanya Denis selama mereka berjalan menuju ruang rawat.
Satya nampak berpikir sebentar, sebelum senyum lebar remaja itu tunjukkan,"Lo tenang aja, semester depan juga kak Jay bisa sekolah lagi. Gue titip kak Jay, lo harus temenin kak Jay keliling sekolah, tunjukkin kalo sekolah kita punya tempat dan makanan yang enak dikantin."
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
Aktuelle LiteraturSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
