Sudah 3 hari berlalu, Jayden kembali kerumah, tidak ada yang berubah dari semua perlakuan papa, tante Mira ataupun nenek, bedanya hanya Jayden lebih sering mengurung diri dikamar, baru akan keluar saat waktu makan dan minum obat.
Selebihnya Jayden hanya akan diam merenung dikamar, tidak melakukan apapun. Jayden mencoba untuk menghindar dari rasa sakit yang mungkin akan terlontar dari mereka yang tidak suka padanya.
Jayden juga belum mengunjungi Riki yang masih senantiasa menutup mata, paman Harlan melarang Jayden mengunjungi rumah sakit karena kondisinya yang belum sepenuhnya pulih.
Sekolah sudah mulai libur, tante Mira yang mengambil rapot sikembar kesekolah sebagai perwakilan orang tua, karena Hilmi memilih untuk mengambil rapot Sakala dan Julian.
Tante Mira yang baru saja pulang dari sekolah, langsung pergi kekamar Jayden dan melemparkan rapot kepada pemiliknya dengan kasar.
"Rapotmu bodoh!! Memalukan"
Jayden yang sedang menikmati waktu sembari menutup mata, menyandarkan kepalanya keranjang langsung tersentak saat rapot besar dan lumayan berat itu mengenai kepalanya.
Jayden meringis, reflek memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Jayden melirik rapot didepannya, sedikit ragu untuk membuka semua pencapaian yang ia dapat selama setengah tahun belajar di sekolah menengah atas.
"Udah penyakitan, beban, bodoh juga. Beruntung Hilmi tidak membuangmu kejalanan." ejek tante Mira sembari melengos pergi keluar. Perempuan itu tidak sadar jika dirinya sedang mengandung hingga berani mengejek Jayden sebegitu hebatnya.
Dengan gerakan lambat, Jayden meraih rapot miliknya, mengabaikan rasa pusing yang masih mendera. Jantungnya berdegup kencang walau papa tidak pernah menegur jika nilai rapotnya kecil, terkadang papa akan menyindir secara halus membandingkan dengan nilai Jake yang selalu tinggi dan membanggakan.
Jayden membuka rapot miliknya, membaca detail setiap angka yang berjejer rapi bersama dengan mata pelajarannya hingga kolom catatan menghentikan pergerakannya.
Disana tertulis peringkat ke-29 dari 30 siswa dikelas. Jayden terpaku mendapati nilai sekolah yang jauh dari kata baik, dengan tangan gemetar ia mengambil rapot miliknya mendekatkan ke wajah kalo ia tidak salah lihat, namun tulisan itu tidak berubah sekeras apapun Jayden mencoba melihat lebih detail.
Jayden memaki dirinya sendiri dalam hati, ternyata semakin dewasa Jayden semakin bodoh dalam mata pelajaran.
Nilainya hampir semua pas kkm, apalagi Jayden sering mengambil bolos sekolah tanpa keterangan karena mengantar Riki check up, bahkan saat akhir ujian saja Jayden tidak ikut ujian disekolah, Jayden juga tidak tau apakah nilai ulangannya remedial atau tidak.
Selama dirumah sakit Jayden jarang sekali membuka ponsel apalagi membaca grup kelas. Walau Jayden sudah bisa menebak ia mungkin tidak akan mendapat nilai tinggi, tapi ia tetap tidak percaya nilainya akan anjlok sampai mendapat peringkat 2 dari belakang.
Kalo papa tau, papa akan memberikan reaksi seperti apa setelah tau anak yang ia perjuangkan dan penyakitan ini mendapat nilai terendah dikelasnya? Apa papa tidak semakin membencinya? Bagaimana Jayden membuktikan pada papa kalo ia pantas hidup kalo nilainya saja hancur dan malah membuat papa malu dengan kebodohannya.
Jake juga pasti sama, anak itu pasti semakin membenci dirinya, karena Jayden sama saja mempermalukan Jake yang sudah rela meluangkan waktu untuk mengajari dia banyak mata pelajaran.
Ditengah ketakutannya, suara pintu kamar terbuka lebar menampilkan Julian dan Sakala yang berlari dengan riang kearahnya, senyum bahagia terus terpatri diwajah mereka sembari memeluk rapot yang baru dibagikan dari sekolah mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
General FictionSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
