Satu minggu berlalu setelah Riki dipindahkan keruang rawat, si kecil akhirnya membuka mata keesokan harinya, dan mereka semua senantiasa menjaga Riki dirumah sakit.
Satya keluar dari rumah sakit setelah 2 hari dirawat, karena kondisinya yang drop sebab kecapean. Hilmi juga jadi lebih sering mengunjungi rumah sakit, walau hanya sesekali menginap tapi siang hari Hilmi memilih mengerjakan pekerjaan kantor dirumah sakit sembari mengawasi anak-anak.
Jayden, Julian, Sakala sama sekali tidak pulang hanya Jake yang bolak-balik kerumah mengambil barang yang mungkin mereka butuhkan.
Dan Harlan memilih kembali kerumahnya dikota yang berbeda dengan Hilmi 2 hari lalu. Lelaki itu tidak bisa berlama-lama di rumah Hilmi karena urusan pekerjaan dan anak-anaknya.
Untuk kali ini Harlan akan memberikan satu kesempatan untuk Hilmi merubah semuanya, ia juga sempat berbicara empat mata dengan Hilmi yang akhirnya meminta maaf dan mengaku menyesal.
Harlan berharap ini adalah awal yang baik untuk Hilmi merubah semuanya.
Setelah Riki kembali, ada yang berubah dari sikecil, anak itu jadi lebih sering diam memandang keluar jendela dengan tatapan kosong dan baru akan bicara jika Jayden mengajaknya mengobrol.
Hilmi adalah orang yang paling sering diabaikan ucapannya oleh Riki, bungsunya bahkan seolah enggan berdekatan dengan Hilmi.
Pagi ini Jayden memilih mengajak Riki keluar mencari udara segar, Jayden khawatir Riki bosan dengan suasana ruang rawat yang membosankan.
Jadi dengan riang Jayden mendorong kursi roda sang adik mengajaknya mengobrol banyak hal tapi respon Riki hanya mengangguk kecil.
Dalam hati Jayden merasa sedih, padahal ia sangat merindukan ocehan Riki yang seringkali bertanya banyak hal random hingga sulit menjawab karena terlalu banyak hal yang ditanyakan oleh sikecil.
Jayden memilih menghentikan langkahnya ditaman dibawah pohon rindang yang begitu terasa sejuk.
"Adek, mau makan?" Tanya Jayden berjongkok dihadapan adik kecilnya yang terus menunduk.
Riki menggeleng, menolak tawaran Jayden, ia juga belum merasa lapar.
Jayden menghela nafas pelan, mencoba mencari topik yang pas untuk Riki.
"Adek kenapa? Mau ada yang adek ceritain? Kaka kangen sama ocehan adek. Rumah sepi loh kalo gak ada adek, kaka juga udah keluar dari rumah sakit. Adek gak mau pulang kerumah?" Tanya Jayden membuat Riki semakin menunduk dalam.
"Engga papa kalo adek mau cerita, cerita aja. Apa mau kaka peluk?" Tawar Jayden merentangkan tangan didepan sang adik.
Riki yang merasa Jayden memberikan izin langsung menghambur kedalam pelukan sang kaka, anak itu menangis tanpa suara menyalurkan rasa yang tidak bisa ia jelaskan.
"Kaka na pulang" bisik Riki tepat ditelinga Jayden.
"Adek kan masih sakit, sebentar lagi ya" ucap Jayden hati-hati.
Riki menggeleng pelan,"adek na pulang kak, adek bosen dilumah sakit. Kak Jay adek beban, ya?"
Jayden terdiam sejenak, pertanyaan Riki mengingatkannya pada diri sendiri, selama ini ia selalu menanyakan hal itu itu pada diri sendiri juga orang lain, menanyakan seberapa besar beban dia untuk orang lain.
Dan sekarang saat Jayden mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Riki, ia jadi bingung. Bukan karena mengiyakan pertanyaan sikecil hanya saja Jayden bingung harus menjelaskan dalam bahasa apa agar Riki tidak lagi merasa seperti itu.
"Adek dengerin kaka, adek bukan beban entah itu buat kaka, papa ataupun yang lain. Adek itu hadiah sekaligus anugrah terbaik yang semesta kasih buat keluarga kita. Kaka selalu bilang sama diri kaka sendiri kalo semua orang yang lahir bukanlah beban selama mereka tidak berbuat kerusakan. Adek anak baik, pintar, nurut, gak pernah nakal, selalu berbuat baik dan sayang papa sama kaka juga abang jadi adek bukan beban. Jangan pernah mikir gitu lagi, ya. Kaka selalu sayang adek apapun itu" Jayden menjelaskan dengan sangat hati-hati dan pelan membiarkan Riki untuk bisa menyerap perkataannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
General FictionSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
