"kak Jay, kak Satya kok belum pulang, ya. Bang Jake aja udah pulang, bilangnya hari ini gak latihan, kan?" Tanya Julian sebab ia merasa khawatir hampir jam setengah delapan malam tapi Satya belum juga pulang.
Padahal Jake sudah pulang dari 3 jam lalu. Jayden juga sama khawatirnya mencoba terus-menerus menelepon Satya namun ponselnya tak kunjung aktif.
Bertanya pada Jake juga bukan hal bagus karena anak itu selalu menjawab tidak tahu.
"Kak Satya emang gak izin mau apa gitu ke kaka?" Tanya Sakala yang sekarang duduk disofa sembari bermain game diiPad dengan Riki yang bersandar nyaman dibahunya.
Demam Riki sudah turun membuat mereka semua bernafas lega, tinggal lemas dan manja Riki yang tersisa, membuat sibungsu terus menempel pada semua saudaranya.
"Satya gak bilang apa-apa sama kaka. Kata Deris, Satya juga gak ikut latihan" jawab Jayden pikirannya sekarang berkelana jauh sebab Geon sahabat yang selalu bersama Satya sejak SD pun tidak tahu kemana anak itu pergi saat Jayden menghubunginya.
Ditengah kebingungan mereka semua Hilmi membuka pintu baru kembali dari apartemen Mira dengan wajah serius, papa 6 anak itu berjalan mendekat kearah mereka lalu duduk disofa ruang keluarga memperhatikan mereka satu persatu.
Matanya menyipit ketika netra gelapnya tak mendapati kehadiran Satya dan Jake, biasanya mereka semua akan berkumpul diruang keluarga setiap malam.
"Dimana Jake sama Satya?" Tanya Hilmi dengan wajah serius.
"Jake ada dikamar, Satya belum pulang" jawab Jayden pelan dihatinya masih ada setitik rasa takut, kecewa setelah pertengkaran tadi siang.
Mau tidak dijawab tapi papa bertanya dan tidak ada yang mau menjawab selain Jayden.
Tanpa sepengetahuan mereka semua Riki bahkan menyembunyikan wajahnya dibelakang Sakala, meremas celana tidurnya sendiri merasa ketakutan ketika melihat wajah Hilmi yang serius tanpa kelembutan dimatanya.
"Apa maksudmu? Ini udah malam dan anak itu belum pulang? Pergi keluyuran kemana anak itu?!"
"Pa, Jay juga gak tau. Jay udah-
"Kamu sebagai kaka harusnya tau kemana dia pergi. Suruh dia pulang sekarang!!" Ucap Hilmi membuat Jayden langsung bangkit menjauh untuk kembali menghubungi Satya, ia berharap Satya mau mengangkat teleponnya.
"Sakala, panggil Jake suruh dia turun. Ada yang mau papa bicarain sama kalian semua, penting"
Tanpa menunggu lagi Sakala langsung berlari menuju lantai dua tempat kamar sang abang berada, Riki yang mendapati perisainya pergi langsung beringsut mendekat kearah Julian yang berada tak jauh dari tempat ia duduk sekarang.
"Kak Ian" cicit Riki menarik lengan baju panjang yang Julian kenakan.
Julian spontan menoleh mendapati wajah Riki yang kini berkaca-kaca,"loh adek kenapa?"
"Mau kak Ian" tanpa aba-aba Riki memeluk lengan kanan Julian menenggelamkan kepalanya dibahu sang kaka.
Julian kebingungan mendapati tingkah adiknya sekarang apalagi tanpa angin tanpa badai anak itu memanggil dirinya dengan embel-embel kaka.
"Adek kenapa? Ada yang sakit?"
Riki menggeleng,"takut"
"Takut? Takut sama apa? Kita gak lagi nonton horor kok"
Riki tidak menjawab ia malah semakin merapatkan tubuhnya pada yang lebih tua.
Hilmi memperhatikan keduanya dari sebrang, dia tahu Riki pasti takut padanya setelah keributan tadi siang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
General FictionSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
