68

1.4K 158 86
                                        

Satya mengadahkan kepalanya memandangi hamparan langit biru dari atas gedung rumah sakit, senyuman kecil terbit dari bilah bibirnya.

16 hari menuju ulang tahun trio kembar membuat Satya tidak sabar menunggu, menanti Jayden dan Riki yang akhirnya bisa terbebas dari semua rasa sakit.

Kemarin Jayden akhirnya tersadar setelah 4 hari begitu damai dalam tidurnya, Satya sangat bahagia karena sekali lagi Jayden masih memiliki harapan untuk hidup.

"Lian, kaka kangen kamu. Terimakasih karena udah bujuk kak Jay buat kembali, terimakasih Tuhan karena kasih kak Jay kesempatan. Satya janji bakal bayar semuanya." Lirih Satya memandangi langit biru itu dengan sendu dan senyumannya berubah menjadi senyum getir.

16 hari adalah waktu yang singkat, lalu apa yang harus Satya lakukan untuk menambah amal dalam hidupnya, Satya mungkin anak nakal dan kerap melawan orangtua, amal baiknya tidak banyak lalu apa nanti diakhirat ia bisa bertemu Julian?

Cukup lama Satya berdiam disana menikmati hembusan angin sore dari atas ketinggian. Rasanya menenangkan sudah lama Satya tidak merasakan suasana seperti ini.

Hidupnya akhir-akhir ini bagai roller coaster yang selalu membuat jantungnya berdetak lebih cepat, sesuatu yang tidak ingin ia dengar selalu mampir membuat Satya ketakutan.

Dirasa cukup Satya berbalik turun melewati tangga darurat kembali menuju ruang rawat Jayden.

Langkahnya terhenti saat dekat dengan ruang rawat, disana Arin berdiri didepan pintu memandangi jendela kecil itu dengan lamat.

Untuk pertama setelah sekian lama Satya kembali dipertemukan dengan mama.

Hatinya senang karena bisa melihat mama disisa umurnya yang hanya 16 hari, tapi disisi lain Satya takut, takut mama kembali menggoreskan luka dihatinya.

Satya sudah mempersiapkan hati untuk tidak bertemu mama, ia tidak mau membawa sakit hati dan kebencian saat ia pergi nanti, Satya ingin pergi dengan damai.

Setidaknya saat mama tau Satya berkorban entah apa reaksi perempuan itu, senang atau bahagia karena kepergian anak bodoh sepertinya, Satya tidak peduli.

Kalo perempuan itu sudi Satya tidak masalah kalo mama memeluknya setelah tubuhnya dingin, karena pelukan mama hangat merengkuh tubuh Satya yang dingin kosong tanpa jiwa.

Satya diam memperhatikan mama dari jarak 10 langkah, Arin yang menyadari ada seseorang yang memperhatikannya menoleh kesamping dimana Satya menatapnya dengan sorot tidak terbaca.

Menyadari mama juga kini menatapnya, Satya langsung berbalik hendak pergi darisana. Hatinya tidak sanggup kalo harus menerima luka dari perempuan cantik seperti mama.

Baru 3 langkah, suara mama mengalun dari belakang memanggil namanya dengan lembut.

Sejenak Satya berhenti tertegun mendengar nada panggilan mama yang menenangkan, rasanya Satya ingin langsung berbalik memeluk mama seolah tidak peduli lagi dengan semua hal, tapi ia tidak mau terbuai oleh bayangan semu tatkala semua itu hanya bayangan.

"Satya" panggil Arin lagi sembari mendekat kearah Satya yang masih diam mematung enggan berbalik menghadap mama.

Arin menyentuh pundak Satya, ia merasakan putranya yang langsung tegang. Dengan pelan Arin membalikkan Satya agar menghadap dirinya, senyum teduh terus Arin tunjukkan.

Satya yang melihat wajah mama tersenyum kearahnya, membuat dirinya sedikit demi sedikit merasa rileks. Walau ketakutan masih Satya rasakan.

"Satya, Jake lagi nemenin Ala ke pusara Ian ya?" Tanya Arin dengan nada lembut, Satya sampai lupa bagaimana tutur kata lembut Arin padanya dulu sekali.

Precious Family || EnhypenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang