Kedatangan Sakala kerumah sakit ternyata membuat seisi ruangan dibuat terkejut setelah anak itu menangis tanpa henti dan langsung memeluk Jayden.
Sakala hampir menangis selama 2 jam penuh, Harlan tidak menceritakan apa yang terjadi karena permintaan Sakala sendiri, Sakala juga hanya menangis tanpa menjawab setiap kali mereka tanya Sakala kenapa.
Seperti sekarang Sakala masih betah memeluk kakanya, membuat Julian yang berada disana ikut kesal karena tidak bisa manja dengan Jayden.
"Bang Kala awas, ih. Kasian kak Jaynya nanti sesek dipeluk bang Kala kayak gitu" ucap Julian sembari menarik-narik belakang baju Sakala agar abangnya itu mau berpindah posisi.
Sakala menggeleng dan malah semakin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan kepalanya kedada Jayden.
Jujur saja Sakala sangat takut sekarang, ada sesuatu yang tidak bisa Sakala ceritakan pada siapapun termasuk Jayden sendiri.
"Mau kak Jay aja" cicit Sakala.
Jayden yang tidak tega akhirnya tetap membiarkan Sakala memeluk dia sepuasnya.
"Gak papa, Lian. Kaka gak sesek kok dipeluk Kala sekarang"
Julian menghela nafas kasar lalu memilih duduk disofa memperhatikan abangnya yang sedang dalam mode manja dan cengeng.
"Bang Kala kalo khawatir sama kondisi kak Jay pasti udah cerewet, tapi daritadi bang Kala banyak diem, ya? Pasti ada yang gak beres." batin Julian.
Julian sangat tau bagaimana kepribadian Sakala. Sakala anak yang ceria, hidupnya bebas mengalir begitu saja, sekalipun Sakala memiliki hal yang menganggu perasaannya Sakala akan langsung bercerita pada Julian atau pada siapapun yang menurutnya bisa membuat tenang.
Walau terkadang Sakala juga selalu menyembunyikan perasaannya dari semua orang, Julian pasti bisa membuat Sakala jujur.
Tapi jika Sakala tetap bungkam dan tidak bercerita apapun pada Julian pasti ada sesuatu yang abangnya sembunyikan.
***
Didepan ruangan Riki, Satya masih setia duduk menunggu adiknya untuk bisa segera sadar.
Hampir 24 jam Riki belum juga sadar, masih betah menutup mata menjelajahi mimpi yang mungkin sangat indah hingga adik kecilnya itu memilih untuk tetap disana.
Satya terus berdoa agar adiknya itu bisa segera sadar, ia belum siap harus kehilangan sibungsu Riki yang masih panjang jalan kehidupannya.
"Adek ayo bangun, kak Satya kangen ocehan sama cadelnya adek. Adek kuat ya, adek harus bangun. Tuhan, tolong suruh adeknya Satya pulang dari taman indahmu." Satya merapalkan doa dalam hati berharap keajaiban akan segera tiba.
Satya yang tertunduk langsung mengangkat pandangan saat sentuhan dingin dari kaleng minuman tertempel dipipinya. Orang itu mengambil tangan Satya agar segera menerima minuman lantas duduk disebelahnya.
Sejenak keduanya terdiam, ada rasa canggung saat keduanya duduk bersama berdampingan setelah sekian lama.
Tidak ada yang mau memulai percakapan, Satya yang tetap bungkam sembari diam-diam terus berdoa untuk keselamatan adiknya. Sedangkan orang itu terus diam sibuk bergulat dengan pemikirannya sendiri.
Hening, tidak ada suara selain suara langkah kaki beberapa orang yang terus bolak-balik didepan ruangan.
"Satya" panggil orang itu setelah sekian lama bungkam.
Satya masih tetap diam, tidak bereaksi apapun.
"Satya"
Hening.
KAMU SEDANG MEMBACA
Precious Family || Enhypen
General FictionSeandainya waktu dapat kembali diputar, Hilmi tidak ingin kehilangan siapapun. Seandainya Hilmi bisa membagi kasih sayang sama rata pada putra-putranya, ia tidak akan pernah hidup dalam penyesalan. Hilmi mungkin bisa merelakan wanita yang sangat ia...
