Ruang pernikahan bernuansa putih dan biru tampak terlalu indah
untuk kenyataan yang sedang menunggu runtuh. Bunga-bunga tersusun rapi, musik lembut mengalun pelan, semua orang menunggu satu momen sakral.
Alana hadir. Duduk di kursi roda, dibalut gaun putih sederhana,
wajahnya pucat tapi tersenyum cantik senyum yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang menahan sakit.
Verdi mengenakan jas cream yang senada.Langkahnya pelan saat menghampiri Alana,seolah setiap langkah adalah pengkhianatan yang harus ia jalani demi janji.
Alana menengadah.Mata mereka bertemu. Air mata menggantung di kelopak mata Alana,tapi senyumnya tetap ada.
Ia meraih tangan Verdi, menggenggamnya dengan sisa tenaga yang ia punya.
"Aku akan bahagia," bisik Alana
"kalau kamu bahagia."
Kalimat itu menusuk lebih dalam
daripada perpisahan mana pun.
Air mata Verdi jatuh.Ia menunduk,
berusaha berdiri tegak saat penghulu mulai berbicara.
Ijab kabul akan dimulai.
Verdi menarik napas.
Suaranya gemetar.
"Saya terima-"
Tiba-tiba genggaman Alana melemah.
"Al?" Verdi menoleh cepat.
Wajah Alana berubah pucat sepenuhnya.
Matanya kosong.
Tubuhnya limbung di kursi roda.
"ALANA!"
Darah mengalir dari hidungnya.
Tipis, lalu deras.Tubuhnya terkulai.Tak sadar diri.Ruangan yang tadinya hening sakral langsung berubah kacau.
"Dokter!"
"Alana pingsan!"
Verdi berlutut di depan kursi roda.
Tangannya gemetar menahan wajah Alana.
"Al, jangan, jangan sekarang..."
suaranya hancur, tak berbentuk.
Ijab kabul terhenti. Tidak ada kata sah.
Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pernikahan. Alana diangkat tergesa-gesa. Dibawa keluar ruangan. Ambulans meraung. Verdi ikut masuk tanpa berpikir. Tanpa menoleh ke siapa pun. Tanpa peduli dunia yang baru saja runtuh di belakangnya.Pernikahan itu batal.
Resmi. Tanpa kata. Yang tersisa hanyalah seorang lelaki dengan jas krem yang duduk di dalam ambulans, memegang tangan perempuan
yang ia cintai seumur hidupnya
dan berbisik berulang-ulang
"Maafin aku, Al. Tolong... jangan tinggalin aku sekarang..."
Dan hari yang seharusnya menjadi awal hidup baru berubah menjadi awal
dari kehilangan yang tak pernah ia siap hadapi.
Verdi duduk di samping Alana.
Tangannya menggenggam jemari yang mulai dingin.
Gaun putih Alana ternodai bercak merah.
Putih yang tadi suci, kini terlihat rapuh.
"Al... aku di sini," bisiknya berulang.
"Dengar aku... buka mata kamu, ya..."
Tidak ada jawaban.
Monitor berbunyi tak beraturan.
Paramedis bergerak cepat.
Perintah pendek. Nada tegang.
Verdi mundur sedikit saat mereka memberi oksigen. Tangannya gemetar.
Dadanya seperti diremas.
Ia menatap wajah Alana perempuan yang tadi tersenyum cantik
di tengah bunga dan cahaya.
Pintu UGD terbuka keras.
Alana langsung dibawa masuk.
"Maaf, keluarga tunggu di luar."
Kalimat itu selalu sama. Dan selalu terasa kejam. Verdi berdiri terpaku. Jas krem kusut. Tangannya masih bergetar
seolah masih menggenggam tangan Alana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romansa📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
