Kakinya akhirnya tak mampu lagi menahan tubuhnya.
Verdi terduduk kembali di lantai lorong rumah sakit yang dingin.
Punggungnya menempel di dinding putih pucat. Tangannya naik ke rambutnya sendiri, mengacaknya kasar seolah ingin mencabut semua pikiran dari kepalanya.
"Aku... aku nggak bisa mikir" gumamnya lirih. Lalu tiba-tiba tangannya mengepal dan menghantam pelipisnya sendiri.
"Semua salahku, salahku"
"Verdi, berhenti!" Dini berlari mendekat.
Tapi Verdi seperti tak mendengar.
Ia memukul kepalanya lagi, lebih keras, nafasnya terputus-putus.
"Aku yang bawa dia hujan-hujanan aku yang setuju menikah aku yang-"
Tangannya terangkat lagi.
Faris menangkap pergelangan tangannya di udara.
"Cukup!" bentaknya.
Mata Verdi kosong, merah, seperti orang yang kehabisan arah.
"Aku harusnya yang di dalam sana, bukan dia..." bisiknya.
Faris menggenggam kedua tangan Verdi kuat-kuat agar tak bisa melukai dirinya sendiri.
"Jangan sakiti diri kamu!" suaranya tegas, nyaris memohon.
"Alana nggak pernah minta kamu hancur begini!"
Dini berlutut di sisi lain, memegang bahu Verdi yang gemetar.
"Dia berjuang untuk hidup, Ver." katanya pelan, air matanya jatuh.
"Bukan supaya kamu menyiksa diri."
Tubuh Verdi akhirnya melemas.
Tangannya jatuh, tak lagi melawan genggaman Faris.
Isakannya pecah tanpa suara, hanya getaran panjang dari dada yang terlalu penuh.Kepalanya tertunduk.
"Aku takut. " bisiknya hampir tak terdengar.
"Takut kehilangan dia takut kalau dia bangun dan aku sudah jadi orang yang rusak."
Dini menahan tangis.
Faris mempererat pegangannya, tapi suaranya kini lebih lembut.
"Kalau dia bangun nanti," katanya pelan, dia harus lihat kamu masih di sini. Masih utuh. Masih jadi tempat dia pulang."
Di balik kaca, mesin masih berbunyi teratur. Di luar, seorang lelaki duduk hancur, berjuang menahan dirinya sendiri agar tidak runtuh sepenuhnya,
karena satu-satunya harapan yang tersisa adalah tetap bertahan
sampai Alana membuka mata.
🌼🌼🌼
Hari-hari berlalu tanpa benar-benar terasa. Waktu seperti berhenti di lorong itu.
Verdi masih di kursi yang sama, di depan kaca yang sama, menatap ruangan tempat Alana terbaring.
Tubuh yang dulu penuh hangat kini diam tak bergerak. Wajah yang dulu selalu memantulkan senyum lembut kini pucat, nyaris transparan di bawah cahaya lampu ruang intensif. Tak ada suara nafasnya yang bisa ia dengar. Tak ada panggilan pelan menyebut namanya. Hanya bunyi monitor.
Bip...
Bip...
Bip...
Suara datar yang menjadi satu-satunya tanda bahwa ia masih di dunia yang sama. Tangan Alana terbaring di samping tubuhnya, dipenuhi selang dan kabel. Dada naik turun pelan tapi tetap terlihat rapuh. Verdi menatap tanpa berkedip. Seolah kalau ia berpaling satu detik saja, garis hijau di monitor itu akan berubah lurus.
"Al..." suaranya parau, hampir tak keluar. Telapak tangannya menempel di kaca pembatas. Dingin.
"Aku di sini."
Tak ada jawaban. Hanya bunyi mesin yang tetap setia mengisi kesunyian. Dulu ruangan di sekitarnya selalu dipenuhi suara Alana. Cara dia memanggil namanya dengan nada kecil yang hangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romansa📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
