Monitor yang sejak tadi berbunyi datar tiba-tiba berubah.
Pip...
pip...
pip...
Sedikit lebih cepat. Sedikit lebih hidup.
Verdi yang terduduk di lantai terangkat kepalanya. Nafasnya tercekat. Ia menoleh ke kaca, matanya membesar.
Di dalam ruangan, tubuh Alana yang selama ini kau tampak bergerak sangat halus. Ujung jarinya bergetar, nyaris tak terlihat, tapi cukup membuat satu perawat berteriak pelan memanggil dokter.
Pintu ruang perawatan terbuka cepat. Dokter dan beberapa perawat masuk tergesa.
"Respon muncul, cepat," terdengar samar dari balik kaca.
Verdi berdiri limbung, kedua tangannya menempel di kaca lebih kuat dari sebelumnya.
"Al ?"
Bibir pucat Alana bergerak. Sangat pelan. Seperti setiap huruf harus didorong keluar dengan sisa tenaga terakhirnya.
Dokter mendekatkan telinga.
Dan di sela nafas yang berat itu, terdengar lirih, terputus-putus.
"Ver...di..."
Sekali. Air mata Verdi langsung jatuh tanpa izin. Tangannya gemetar hebat.
Di dalam, bibir itu bergerak lagi.
"Verdi..."
Kedua. Suara itu hampir tak terdengar, tapi monitor melonjak sedikit, seolah tubuhnya memaksa hidup hanya untuk memanggil satu nama.
Verdi memukul kaca pelan dengan telapak tangannya, putus asa ingin masuk.
"Aku di sini, Al! Aku di sini!"
Lalu untuk ketiga kalinya, lebih lemah, seperti hembusan nafas terakhir yang dipertahankan.
"Ver...di..."
Tubuhnya kembali jatuh diam di atas ranjang. Monitor kembali melambat.
Pip...
pip...
Dokter segera memberi instruksi cepat, tangan-tangan sibuk menyesuaikan alat, memeriksa pupil, mengecek detak.
Di luar, Verdi terisak seperti anak kecil yang akhirnya dipanggil pulang.
Keningnya menempel di kaca.
Dia tersenyum di tengah tangis yang pecah.
"Dia manggil aku," bisiknya tak percaya.
"Dia masih ingat aku,"
Harapan yang hampir mati itu menyala lagi, kecil, rapuh, tapi nyata.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, Verdi tidak merasa sendirian di sisi kaca itu.
Karena di ambang antara sadar dan tidak, antara hidup dan pergi, Alana memilih memanggil namanya.
"Dia manggil aku..."
Suara Verdi gemetar, antara tangis dan tawa yang tak utuh. Tangannya masih menempel di kaca, matanya tak berkedip menatap tubuh Alana di dalam.
Langkah kaki tergesa terdengar di lorong.
Dini dan Faris berlari mendekat.
"Ada apa?!" Dini terengah.
Verdi menoleh dengan mata penuh air mata yang aneh bukan hanya sedih, tapi ada cahaya kecil di dalamnya.
"Dia manggil aku," ulangnya pelan, seperti takut kalimat itu hilang kalau diucapkan terlalu keras.
"Tiga kali dia sebut namaku."
Dini menutup mulutnya, matanya langsung basah. Faris mematung, tak berani berharap terlalu tinggi tapi tak sanggup menahan getar di dadanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romansa📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
