Kursi di samping kaca masih kosong.
Verdi menariknya pelan, lalu duduk.
Bukan seperti orang yang singgah,
tapi seperti orang yang menetap.
Kepalanya bersandar ke dinding, mata tetap lurus ke arah ranjang itu.
Jam di lorong berdetak pelan. Perawat sesekali lewat. Dunia terus bergerak.
Tapi di dalam ruangan itu, waktu seperti tertahan.
Selang oksigen tetap di tempatnya.
Infus menetes pelan. Dada Alana naik turun dengan bantuan mesin. Tak ada reaksi. Tak ada panggilan nama.
Hanya hidup yang dipertahankan setipis mungkin.
"Aku masih di sini, Al," katanya sangat pelan.
Tak berharap dijawab. Hanya ingin dunia tahu ia belum pergi. Matanya kembali ke wajah itu.
"Aku bakal cerita apa aja ke kamu tiap hari. Walau kamu diam."
Suaranya serak oleh kurang tidur.
"Tadi malam bulannya indah, harusnya kamu lihat."
Tak ada perubahan di dalam ruangan.
Monitor tetap berbunyi, setia, tanpa emosi.
Pip...
pip...
pip...
Verdi menutup mata sebentar, menahan gelombang sakit yang naik lagi.
Lalu membukanya kembali.
Karena selama Alana belum berhenti bernapas, ia menolak berhenti menunggu.
Pintu ruang perawatan terbuka pelan.
Seorang dokter masuk bersama perawat, mengganti kantong infus yang hampir habis. Gerakan mereka tenang, rutin, seperti hari-hari sebelumnya.
Verdi berdiri dari kursinya, otomatis mendekat ke kaca.
Tak ada harapan berlebihan kali ini.
Tangan Alana diangkat sedikit untuk diposisikan ulang.
Lalu, sangat pelan, nyaris seperti hembusan nafas yang salah arah, bibir pucat itu bergerak.
"Verdi..."
Hanya sekali. Sangat lemah.
Hampir tak terdengar.
Tapi dokter dan perawat sama-sama berhenti.
Monitor melonjak satu nada.
Verdi membeku. Dadanya seperti berhenti berdetak satu detik penuh sebelum akhirnya pecah.
"Itu... itu aku..." suaranya tercekat.
Tangannya menempel keras di kaca, matanya langsung dipenuhi air.
"Al! Aku di sini!"
Di dalam, bibir itu tak bergerak lagi.
Tubuhnya kembali diam seperti semula.
Tapi ruangan sudah berubah.
Dokter menoleh ke arah kaca, menatap Verdi dengan anggukan kecil yang berarti dia mendengar kamu.
Bukan mimpi. Bukan ilusi. Panggilan itu nyata.
Air mata Verdi jatuh deras, tapi senyum patah muncul di wajahnya.
"Satu kali saja cukup..." bisiknya gemetar.
"Kamu ingat aku."
Monitor kembali stabil.
Pip...
pip...
pip...
Dan di antara bunyi mesin dan bau obat, satu nama yang diucap pelan itu menjadi tali tipis yang menahan Verdi agar tidak jatuh sepenuhnya ke jurang kehilangan.
Dokter dan perawat berdiri sebentar di dekat pintu, berbicara pelan namun serius. Tatapan mereka beberapa kali mengarah ke arah Verdi di balik kaca.
Akhirnya dokter membuka pintu sedikit dan keluar.
"Dia memberi respons suara yang sangat lemah," katanya tenang. "Itu bukan kesadaran penuh, tapi otaknya merespons rangsangan emosional."
Verdi hampir tak berani bernapas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romansa📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
