Malam yang menggerogoti akal lampu lorong ICU tidak pernah padam.
Verdi duduk bersandar ke dinding, lutut ditarik ke dada. Tangannya gemetar. ia menatap pintu ICU tanpa berkedip, seakan kalau ia berpaling satu detik saja, Alana akan pergi selamanya.
"Kamu jangan bercanda kayak gini ya, Al..."
suaranya serak.Hampir tidak terdengar. Tidak ada jawaban.Jam berdetak keras di kepalanya. Setiap detik seperti menghantam tulang rusuknya dari dalam.
Kepala yang Terlalu Penuh Verdi menutup telinga. Terlalu banyak suara. Tawa Alana di taman.Tangisnya saat hujan.Kata-kata terakhir yang belum sempat ia balas.
"Kalau aku istirahat terlalu lama... tolong ya, bahagia."
"Enggak..."
Verdi menggeleng kuat.
"Jangan suruh aku bahagia kalau tanpa kamu."
Ia berdiri tiba-tiba.Langkahnya sempoyongan.
Faris buru-buru mendekat. "Ver, duduk lagi. Tolong."
Verdi menatapnya dengan mata kosong. "Kamu tau rasanya ditinggal hidup-hidup nggak, Ris?"
Faris terdiam.
Verdi tertawa lirih. "Aku tau."
Kehilangan kendali tangan Verdi meremas rambutnya sendiri. Ia menariknya keras, seolah ingin mencabut pikirannya keluar.
"Ini salah aku," gumamnya berulang. "Semua salah aku."
Ia memukul dinding. Sekali. Dua kali.
Bunyi tulang bertemu beton membuat Dini menjerit.
"VERDI, STOP!"
Verdi tidak berhenti. Sampai Faris memeluknya dari belakang, menahan tubuhnya yang gemetar.
"Udah! Udah cukup!" teriak Faris, suaranya sendiri pecah.
Verdi terkulai. Tangannya lemas. Tangisnya akhirnya keluar keras, kasar, tanpa sisa harga diri.Tangisan seseorang yang sudah kehabisan pegangan. Peringatan yang menakutkan seorang dokter mendekat, wajahnya serius.
"Kondisi pasien masih kritis," katanya. "Dan kami juga khawatir dengan kondisi mental Anda."
Verdi menoleh pelan. Tatapannya kosong.
"Kalau dia nggak bangun," katanya datar, "aku juga nggak perlu disadarkan."
Dini menutup mulutnya. Air matanya jatuh deras.Dokter menghela napas. "Kami mungkin perlu memberi penenang ringan. Ini demi keselamatan Anda."
Verdi tersenyum pahit. "Tenang?"
"Sejak kapan hidup aku tenang?"
Dini duduk di mushola rumah sakit. sajadah basah oleh air matanya.
"Ya Allah..."
"Aku mohon... jangan ambil semuanya."
Faris berdiri di belakang pintu ICU, menunduk, tangannya mengepal.Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar tidak berdaya.
Menjelang subuh, Verdi duduk sendiri lagi. Tangannya terlipat. Kepalanya tertunduk.
"Kalau memang harus ada yang kamu ambil..."
suaranya bergetar.
"Ambil aku aja."
Ia tertawa kecil. Putus asa.
"Aku nggak sekuat yang aku pura-purakan."
Tangisnya jatuh ke lantai dingin.Dan di balik kaca ICU, monitor masih berbunyi pelan.
Titt... titt...
Tanda hidup yang rapuh.Tanda harapan yang menyiksa.
Pagi datang tanpa kehangatan.
Langit di balik jendela ICU pucat, hampir abu-abu.Mesin masih berbunyi ritmis.
Tidak berubah.Seolah semalam hanyalah mimpi buruk yang tertunda.Verdi duduk tertunduk di kursi lorong,matanya sembab, wajahnya kosong.Tubuhnya terlalu lelah untuk gemetar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
