Sembilan puluh delapan

5 3 0
                                        

Pintu ICU akhirnya terbuka.Bukan dengan tergesa,bukan dengan panik,itu yang membuatnya menakutkan.

Seorang dokter keluar,masker masih menggantung di lehernya. Wajahnya lelah, tapi terkendali.Verdi berdiri lebih dulu,terlalu cepat.

"Dok?"

Suaranya serak. Seperti orang yang sudah tidak tidur berhari-hari.

Dokter menatapnya sebentar, lalu mempersilahkan mereka menjauh sedikit dari pintu.

"Keadaan Alana masih sangat kritis."

Kata masih membuat jantung Verdi berhenti sepersekian detik.

"Kami sudah melakukan penanganan maksimal," lanjut dokter itu.
"Tapi tubuhnya mengalami respon yang tidak stabil terhadap stres."

Dini menelan ludah.Faris meremas tangannya sendiri.

"Apa maksudnya, Dok?"

Verdi bertanya, nyaris berbisik.

Dokter menarik nafas pelan.

"Secara medis, ada kemungkinan kesadarannya tidak kembali seperti sebelumnya."

Lorong itu terasa lebih sempit.

"Tidak kembali?"

Verdi mengulang, kosong.

"Bisa dalam bentuk koma berkepanjangan,"

dokter melanjutkan dengan suara datar yang terlatih,

"atau ia sadar, tapi dengan fungsi kognitif yang menurun."

Dini menutup wajahnya.Tangisnya pecah tanpa suara.Verdi tidak bergerak.

"Ada juga," dokter menunduk sedikit,
"kemungkinan paling buruk bahwa tubuhnya tidak sanggup bertahan."

Kalimat itu tidak keras.Tapi menghantam.

Verdi Menolak Realita
"Nggak," kata Verdi cepat, hampir marah.

"Dia baru buka mata. Dia dengar aku."

Dokter mengangguk pelan. "Itu bukan jaminan,Mas."
"Harapan itu baik," lanjut dokter,
"tapi kami perlu Anda siap untuk semua kemungkinan."

Verdi tertawa pendek.Patah. Tidak waras.

"Kalau gitu kenapa kalian biarin aku ngomong ke dia?" Suaranya naik.
"Kenapa kalian biarin aku ngasih harapan?!"

Dokter terdiam sejenak.
"Karena kadang," katanya jujur,
"yang paling membuat seseorang bertahan.adalah suara orang yang ia cintai."

Kalimat itu justru membuat Verdi runtuh. Keputusan yang tidak Adil

"Kami akan teruskan perawatan intensif,"
dokter menutup pembicaraan.

"Tapi mohon persiapkan diri."

Verdi mengangguk pelan.Bukan karena mengerti.Tapi karena tubuhnya sudah terlalu lelah untuk melawan.

Dokter pergi.Lorong kembali sunyi.
setelah dokter pergi Verdi berdiri mematung beberapa detik,lalu duduk,lalu tertawa lagi kali ini disertai isak.

"Persiapan..." bisiknya.
"Gimana caranya nyiapin diri buat kehilangan orang yang menjadi alasan untuk hidup?"

Dini mendekat,memeluk pundaknya.
"Verdi..."
suara Dini gemetar,
"kalau dia pergi itu bukan salah kamu."

Verdi menatap lurus ke depan. "Aku belum sempat minta maaf."

Lampu ICU tidak berubah,mesin tetap berdetak.Verdi duduk di samping ranjang,

kepalanya tertunduk,tangannya menggenggam jemari Alana

yang terasa terlalu dingin.

"Kalau kamu capek,"
bisiknya hampir tidak bersuara,
"aku bisa nunggu."

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang