"Darahnya sudah berhenti sedikit" lanjut perawat itu, "tapi kita perlu cek ke dalam, ya."
Kursi roda mulai didorong masuk.
Lampu-lampu lorong terasa terlalu terang. Putih,dingin,bau antiseptik menusuk, mengingatkannya pada terlalu banyak hari yang seharusnya sudah berlalu.
Verdi berdiri di ujung lorong,berbicara cepat pada dokter jaga.Tangannya gemetar meski ia berusaha terlihat tenang.
"Hidungnya tiba-tiba berdarah. Mendadak. Dia habis kehujanan," katanya. "Sebelumnya baik-baik saja. Tadi bahkan ketawa."
Dokter mengangguk, wajahnya serius. "Kita observasi dulu. Jangan panik tapi jangan disepelekan juga."
Kalimat itu menghantam Verdi keras.
Jangan panik,Bagaimana caranya?
"Aku di sini," katanya pelan. "Kita bareng."
Suara yang tidak terucap.Di dalam kepalanya, satu kalimat berputar tanpa henti.Aku baru saja bahagia,kenapa tubuhku menarikku kembali ke tepi?
kondisi Alana makin parah, krisis total, semua orang panik. Nada tetap lirih tapi menghantam.Krisis yang tidak bisa Ditunda awalnya hanya satu monitor
yang berbunyi.
Tit-tit-tit.
Pelan,teratur.Lalu tiba-tiba berubah.
Tit-tit-tit-TIT-TIT-TIT.
Seorang perawat menoleh cepat. Wajahnya langsung berubah.
"Dok-!"
Alana terbaring di ranjang, tisu di hidungnya sudah diganti kasa. Tapi darah bukan lagi masalah utamanya.Napasnya pendek, ada naik turun tak beraturan,tangannya dingin.
"Alana?" panggil perawat. "Coba lihat saya."
Alana membuka mata, kosong, seperti menatap sesuatu yang jauh sekali.
"Ver..." suaranya nyaris tak terdengar. "Dadaku... sakit."
Monitor kembali berbunyi keras.
Dokter masuk cepat. "Tekanan turun." "Siapkan oksigen." "Panggil ICU."
Ruangan yang tadi sunyi mendadak penuh suara. Langkah cepat. Perintah saling tindih. Troli didorong keras.
Alana mulai gemetar. Air matanya jatuh tanpa ia sadari.
"Aku capek..." bisiknya. Bukan pada siapa pun. Pada hidup.
Di luar ruangan Verdi baru saja sampai di depan pintu saat dua perawat menahannya.
"Maaf, Mas. Tunggu di luar."
"Ada apa?" suaranya meninggi. "Dia kenapa?"
Pintu ditutup.Klik.
Suara itu kecil. Tapi rasanya seperti mengunci seluruh nafasnya.
Dari balik pintu, suara monitor masih terdengar, lebih cepat, lebih panik.
Verdi berdiri kaku. Tangannya mengepal. Kepalanya kosong.Hanya satu pikiran yang menghantam berulang.Aku bawa dia kehujanan.Langkah kaki lain terdengar.
Dini dan Faris berlari di lorong.
"Verdi!" Dini langsung memegang lengannya. "Ada apa?"
Verdi tidak menjawab. Matanya merah. Fokusnya hanya pada pintu putih itu.
"Aku salah," katanya akhirnya, suara pecah. "Aku harusnya bawa dia masuk dari awal."
Faris menelan ludah. Menepuk bahu Verdi keras, tapi tangannya sendiri gemetar. "Sekarang bukan waktunya nyalahin diri sendiri."
Dari dalam ruangan, suara dokter meninggi.
"Tekanannya drop lagi!" "Siapkan tindakan sekarang!"
Tangis Dini pecah. Ia menutup mulutnya. Tak sanggup berdiri.Verdi melangkah ke pintu, menempelkan dahi ke permukaannya yang dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hujan Dan Lukanya
Romance📌📢 Jangan lupa Follow sebelum membaca,satu lagi jangan lupa tanda ⭐ nya ya bestiee⚠️‼️ ........................ Alana tidak pernah percaya pada cinta. Baginya, cinta hanya janji yang mudah patah dan perasaan yang selal...
