Sembilan puluh lima

2 2 0
                                        

Langit mulai berwarna jingga pucat.
Verdi berhenti mendorong kursi roda.
Bukan karena lelah
tapi karena Alana mengangkat tangannya sedikit.

"Ver," panggilnya pelan.

Verdi mendekat.
Berjongkok di samping kursi roda, sejajar dengan wajah Alana.
"Ada apa?"

Alana menarik napas panjang.
Matanya menatap pepohonan, bukan Verdi.

"Aku mau jujur," katanya. "Sebelum aku takut lagi dan nggak berani ngomong."

Verdi diam. Tidak menyela.
"Aku cinta kamu," ucap Alana akhirnya.

Tidak meledak, tidak bergetar berlebihan.
Hanya kalimat sederhana
yang keluar dari seseorang
yang sudah hampir kehilangan segalanya.

Verdi menelan ludah.Dadanya terasa penuh.

"Tapi," lanjut Alana pelan,
"kalau aku butuh istirahat lama kalau proses sembuhku lebih panjang dari yang kamu kira..."

Ia berhenti sebentar.Menata napas.
"Tolong ya," suaranya melemah,
"kamu tetap bahagia."

Verdi memejamkan mata sejenak.
Bukan karena tidak kuat, tapi karena ingin tetap tenang.

Ia membuka mata. Menatap Alana dengan senyum tipis senyum orang yang memilih bertahan.

"Aku nggak janji bahagia tanpa kamu," katanya jujur. "Tapi aku janji aku nggak akan menyalahkan kamu karena butuh waktu."

Alana akhirnya menoleh padanya.
Matanya basah.
"Itu cukup," katanya lirih.

Angin sore berhembus. Daun-daun bergerak pelan.

Verdi berdiri kembali di belakang kursi roda. Tangannya kembali ke pegangan. Tanpa pelukan. Tanpa genggaman. Tapi jaraknya terasa lebih dekat dari sebelumnya.

Taman rumah sakit tidak begitu luas.

Hanya jalur melingkar, bangku kayu, dan beberapa pohon tua yang daunnya mulai menguning.

Verdi berdiri di belakang kursi roda Alana. Tangannya ragu menyentuh pegangan.

"Kamu capek kalau kelamaan?" tanyanya.

Alana menggeleng pelan.
Itu bukan sekadar soal jarak.
Itu cara mereka sepakat berjalan lagi. Roda kursi berdecit halus di atas batu taman. Burung kecil hinggap di pagar besi.

"Kamu masih ingat," ujar Verdi hati-hati.
"kamu dulu paling suka duduk di tempat yang rame."

Alana tersenyum samar.
"Iya. Tapi sekarang yang sepi juga nggak buruk."

Verdi mengangguk.
"Aku juga baru belajar itu."

Mereka berhenti di bangku taman.
Verdi mengunci roda kursi, lalu duduk di bangku kayu.

"Aku takut," kata Verdi akhirnya.
"Takut ngomong salah. Takut kamu kelelahan. Takut aku masih bagian dari luka kamu."

Alana menunduk.
"Kamu bagian dari hidup aku," jawabnya pelan.
"Luka itu bukan kamu.Tapi rasa takut kehilangan kamu."

Kalimat itu jatuh pelan, tapi membuat dada Verdi bergetar.

Angin berhembus lagi. Alana memejamkan mata sebentar.

Langit yang tadinya jingga perlahan menggelap. Satu tetes jatuh di punggung tangan Alana.

Verdi mendongak.
"Hujan," katanya.

Ia refleks mendorong kursi roda sedikit ke arah kanopi taman.

"Ayo berteduh."

Alana menggeleng pelan.
"Jangan," katanya.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang