102

2 1 0
                                        

Bibir Verdi bergerak pelan, hampir tak terdengar.

"Semua karena aku"

Matanya tak lepas dari tubuh Alana di balik kaca. Tatapannya kosong, tapi kata-katanya tajam menusuk dirinya sendiri.

"Kalau aku nggak maksa jalan sama kamu, kalau aku biarin kamu istirahat, kalau aku nggak egois pengen lihat kamu senyum hari itu."

Nafasnya tercekat.
"Kamu nggak bakal kayak gini."
Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, kukunya menekan kulit telapak sendiri.
Aku yang ngajak kamu hujan-hujanan. Aku yang percaya kamu kuat. Aku yang lupa kalau tubuh kamu lagi berperang."

Suaranya makin kecil, hampir seperti orang bicara pada bayangannya sendiri.

"Aku yang bikin kamu sampai titik ini, Al..."

Keningnya kembali menempel ke kaca.

"Harusnya aku yang di situ. Harusnya aku yang terbaring, bukan kamu."
Air mata kembali jatuh, tapi kini tanpa isak. Hanya mengalir pelan, seperti hujan tipis di kaca.

"Aku cuma mau sebentar bahagia sama kamu, sebentar aja. Ternyata harga yang harus kamu bayar sebesar ini."

Ia menutup mata, rahangnya gemetar.

"Maaf karena mencintai kamu dengan cara yang salah."

Di balik kaca, Alana tetap diam. Dan justru karena itu, kata-kata Verdi terasa makin berat.

"Kalau kamu bangun nanti," bisiknya lemah, "aku janji nggak akan maksa apa-apa lagi. Aku cuma akan duduk di samping kamu. Diam pun nggak apa-apa."

Tatapannya kembali kosong, terpaku.

"Tolong... jangan hukum aku lewat tubuhmu."

Malam semakin larut.
Lampu lorong rumah sakit tetap menyala putih, dingin, tanpa rasa.
Jam dinding bergerak pelan melewati tengah malam, tapi waktu di depan kaca itu terasa berhenti.

Verdi masih berdiri di tempat yang sama. Tatapannya kosong lagi.
Bukan karena air matanya habis,
tapi karena hatinya sudah terlalu lelah untuk menangis.

Dini dan Faris tertidur bersandar di kursi lorong, tenaga mereka habis oleh cemas. Hanya suara nafas pelan mereka
dan bunyi mesin dari balik kaca yang menemani.

Verdi tidak duduk. Tidak bergerak.
Matanya terus menatap Alana
seolah takut jika ia berkedip, takdir akan mencuri satu detik lagi dari hidup perempuan itu.

Kaca memantulkan wajahnya sendiri.
Pucat. Hampa. Seperti orang yang berdiri di luar hidupnya sendiri.

"Al..." bisiknya pelan, hampir tak berbunyi.
Bukan panggilan, Bukan harapan. Hanya kebiasaan yang belum siap berhenti. Ia tidak lagi meminta. Tidak lagi berjanji. Tidak lagi menawar apa pun pada Tuhan.

Ia hanya menatap. Menunggu dengan tubuh yang masih berdiri,tapi jiwa yang sudah duduk pasrah di lantai.

Di dalam ruangan, monitor terus berdetak pelan. Setiap garis itu seperti benang tipis yang menahan Verdi tetap hidup.

Di luar kaca, malam merayap menuju pagi tanpa memberi tanda apakah esok akan membawa kabar baik atau hanya cahaya untuk melihat kehancuran dengan lebih jelas.

Dan di antara sunyi yang panjang itu,
Verdi tetap berdiri. Kosong. Lelah.

Tak bergerak. Seolah seluruh hidupnya kini hanya satu tugas sederhana
menatap Alana sampai entah kapan.

Kakinya akhirnya tak sanggup lagi menahan tubuhnya. Perlahan, seperti pohon yang patah tanpa suara, Verdi merosot turun di depan kaca ICU.
Punggungnya menempel ke dinding, lalu tubuhnya terduduk lemah di lantai dingin lorong rumah sakit.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang