100

4 1 0
                                        

Bunyi monitor itu tidak berhenti.
pendek, cepat, tak beraturan.

pip...

Pip...

Suara itu menembus dinding ICU, menembus dada Verdi
tanpa izin. Ia langsung berdiri. Wajahnya pucat seketika.

"Itu,itu kenapa bunyinya begitu?"

suaranya naik, panik tak tertahan.
Perawat berlari masuk. Lalu satu lagi.
Dokter menyusul.
Pintu ICU tertutup rapat.
Bunyi monitor makin keras. Makin cepat.

Ti-ti-ti-ti-ti-

Dini menutup mulutnya.
Tangannya gemetar hebat.

Faris mematung, rahangnya mengeras menahan sesuatu yang hampir runtuh.

Verdi maju sampai tepat di depan pintu.
Tangannya mengepal. Napasnya berantakan.

"Al" suaranya pecah bahkan sebelum jadi suara.
"Jangan sekarang,tolong jangan sekarang"

Ia menempelkan telinganya ke pintu, seolah bisa mendengar suara Alana
di antara hiruk-pikuk alat medis.

Di dalam,suara dokter meninggi.
Instruksi cepat.Nada darurat.

"Tekanannya turun!"
"Siapkan sekarang!"

Monitor berbunyi panjang sesaat,
lalu kembali tak beraturan.

Verdi mundur satu langkah.
Kakinya lemas.

"Tidak"
kepalanya menggeleng keras.
"Dia kuat. Alana itu kuat"

Ia menampar kepalanya sendiri,

"Bangun, Verdi! Bangun!"
teriaknya pada dirinya sendiri.

Dini berteriak, "Verdi! Stop!"

Tapi Verdi tidak mendengar.

"Kalau aku bisa tukar tempat. Kalau aku bisa ambil sakitnya .Ambil aku aja, Tuhan!"

Suaranya pecah jadi tangisan keras
yang akhirnya tumpah tanpa sisa.
Monitor terus berbunyi. Tak memberi jeda. Tak memberi ampun. Dan di lorong itu, di bawah lampu putih rumah sakit yang terlalu terang untuk duka, semua orang tahu ini bukan lagi soal menunggu kabar.

Ini adalah detik-detik di mana hidup seseorang sedang dipertaruhkan, sementara orang yang paling mencintainya hanya bisa berdiri di luar,
tak berdaya, menyaksikan waktu
perlahan-lahan kejam.
Setelah bunyi itu semuanya berubah. Monitor masih menyala,
tapi ritmenya melemah. Tidak lagi liar,hanya datar, dingin.

Pintu ICU akhirnya terbuka sedikit.
Seorang dokter keluar dengan wajah lelah. Keringat di pelipisnya belum sempat kering.

"Kami berhasil menstabilkan sementara," katanya pelan.
"Tapi pasien kehilangan kesadaran."

Kalimat itu jatuh perlahan, namun menghancurkan.
Verdi maju satu langkah.

"Tidak sadar maksudnya?"
suaranya serak, hampir tak berbunyi.

Dokter menatapnya lama.

"Kemungkinan pasien mengalami koma. Tubuhnya terlalu lelah untuk bertahan sadar."

Koma. Kata itu membuat dunia berhenti bergerak. Verdi tidak menangis.
Tidak berteriak. Ia hanya berdiri kaku
seolah jiwanya tertinggal beberapa detik yang lalu.

"Boleh, boleh saya lihat?"

tanyanya lirih.

Dokter mengangguk pelan.
Alana terbaring diam.

Wajahnya pucat, terlalu tenang untuk seseorang yang tadi berjuang hidup.
Selang oksigen terpasang,Mesin berdengung pelan. Dadanya naik turun tipis seperti napas yang ragu apakah ingin tinggal.

Hujan Dan Lukanya Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang