Langit mendung saat jenazah Ghofran dibawa ke pemakaman di belakang pabrik. Para pekerja ikut mengantar, termasuk Tatang, sopir tua yang selama ini menjadi tangan kanannya di lapangan.
"Mas Ghofran orang baik, Ta..." bisik Toro di sampingnya.
Tatang mengangguk. "Iya, Pak. Lihat deh wajahnya, cerah sekali."
Dan memang benar — saat kain kafan dibuka untuk terakhir kali, wajah Ghofran tampak damai, seolah sedang tidur dengan senyum tipis di bibirnya.
Di kejauhan, tampak Pak Naki berdiri kaku. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia menatap jenazah itu tanpa berkata sepatah pun.
Beberapa menit setelah tanah terakhir ditimbun, suara sirine pabrik tiba-tiba meraung panjang. Operator berlarian — salah satu mesin penggilingan utama macet mendadak tanpa sebab.
Toro menoleh ke arah pabrik, bulu kuduknya berdiri.
"Aneh, baru kemarin diservis..."
Tatang menatap langit yang gelap. "Mungkin, Mas Ghofran belum tenang, Pak..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Supir Ambulans ( Saat Ajal Menjemput )
HorrorTatang seorang supir ambulan yang mengambil pelajaran hidup dari pasien dan jenazah yang dia antarkan.
