Bab 167 - Akhir Hidup Tatang Supir Ambulan eps 5

43 0 0
                                        


Setelah wudu, mereka berempat berdiri di saf depan. Namun sebelum takbir dimulai, Ustadz Adi berkata pelan,
"Mas Tatang... malam ini njenengan yang jadi imam, ya."

Tatang sontak menoleh, terkejut.
"Saya, Ustadz? Astaghfirullah... saya ini hanya supir ambulans, bagaimana saya pantas mengimami panjenengan bertiga?"

Buya Haya tersenyum. "Justru karena sampeyan tulus. Imam bukan soal pangkat, tapi soal hati."

Tatang terdiam. Dadanya berdegup cepat, tapi bukan karena sombong—karena takut. Ia mengangguk pelan, lalu maju ke depan.

"Allahu Akbar..."

Suaranya bergetar di antara lantunan azan yang baru usai. Dalam setiap ayat yang ia baca, Tatang merasa beban di dadanya semakin ringan. Seolah setiap napasnya menguap bersama doa yang naik ke langit.

Saat ia tiba di tahiyat akhir, suara napasnya mulai berat. Pandangannya kabur. Dalam diam, ia berbisik dalam hati,
"Ya Allah... terimalah aku dalam sujud ini."

Supir Ambulans ( Saat Ajal Menjemput )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang