Minggu berikutnya, suasana pabrik terasa berbeda. Dari ruang administrasi, kabar beredar bahwa pesangon almarhum Mandor Ghofran akhirnya disetujui untuk dicairkan lebih cepat.
Pak Toro menandatangani dokumen itu dengan lega. "Akhirnya..."
Zuhri tersenyum. "Terima kasih, Pak Toro. Mungkin beliau sudah tenang sekarang."
Hari itu, mesin penggilingan kembali berputar lancar. Tak ada suara aneh, tak ada macet. Para pekerja bahkan berkata bahwa aroma gula yang keluar terasa lebih manis dari biasanya.
Toro dan Zuhri berdiri di depan mesin yang dulu dipegang Ghofran.
"Dia orang baik," kata Toro pelan. "Pabrik ini berutang banyak padanya."
Zuhri mengangguk. "Dan mungkin... dia masih menjaga kita."
Dari sela-sela uap panas dan deru besi, seseorang seperti mendengar bisikan lirih—
"Terima kasih..."
Angin sore berhembus lembut melewati pabrik tua itu, membawa keharuman gula dan kenangan tentang seorang mandor yang bekerja sampai akhir hayatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Supir Ambulans ( Saat Ajal Menjemput )
HorrorTatang seorang supir ambulan yang mengambil pelajaran hidup dari pasien dan jenazah yang dia antarkan.
