Beberapa hari kemudian, Toro menghadap ke kantor General Manager.
"Pak Naki, mohon maaf, saya ingin usulkan agar pesangon almarhum Ghofran segera dicairkan. Istrinya butuh untuk biaya sekolah anaknya."
Pak Naki mendesah, menurunkan kacamatanya.
"Toro, pesangon itu ada prosesnya. Tidak bisa langsung. Apalagi, dokumen Ghofran masih belum lengkap."
"Tapi, Pak, sudah dua minggu berlalu. Kami bisa bantu urus berkasnya."
"Toro, kamu jangan sok jadi pahlawan. Ini perusahaan, bukan tempat amal."
Toro terdiam. Tapi sorot matanya menajam.
"Baik, Pak. Tapi saya cuma ingin mengingatkan... mesin giling utama macet lagi tadi pagi."
Pak Naki mengangkat kepala. "Kebetulan saja."
Namun, malam itu, di ruang kontrol pabrik yang kosong, seorang operator bersumpah melihat sosok mandor berhelm putih berjalan pelan di antara deru mesin — wajahnya mirip Ghofran, menatap ke arah mesin yang macet, lalu menghilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Supir Ambulans ( Saat Ajal Menjemput )
HorrorTatang seorang supir ambulan yang mengambil pelajaran hidup dari pasien dan jenazah yang dia antarkan.
