Bab 163 - Angin Tenang

38 1 0
                                        

Dua minggu setelah kejadian itu, Zuhri, sahabat karib almarhum Ghofran, diajak memancing oleh Pak Naki di kolam belakang mess pejabat. Angin sore berhembus pelan, memantulkan cahaya matahari di permukaan air.

"Pak," ujar Zuhri pelan sambil menancapkan joran, "boleh saya bicara jujur?"

Naki menatapnya curiga. "Apa?"

"Pak Ghofran itu teman baik saya. Beliau nggak pernah ngeluh, nggak pernah nyolong waktu. Cuma satu pesannya: bantu keluarganya. Saya yakin kalau pesangonnya segera disalurkan, pabrik ini juga tenang."

Naki terdiam. Ia memandangi permukaan air yang tiba-tiba beriak. Seekor ikan besar meloncat, airnya membasahi celana panjangnya.

"Pak..." lanjut Zuhri pelan, "saya nggak maksud nakut-nakutin. Tapi sejak beliau meninggal, mesin giling itu rusak terus, kan?"

Naki menelan ludah. Wajahnya berubah pucat. "Kamu... kamu percaya hal-hal begitu?"

"Saya cuma percaya satu hal, Pak," jawab Zuhri. "Orang yang tulus nggak akan pergi sebelum amanahnya ditunaikan."

Sore itu, angin mendadak berhenti. Kolam menjadi tenang, dan suara azan Magrib terdengar dari kejauhan. Naki termenung lama.

Supir Ambulans ( Saat Ajal Menjemput )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang