Waktu menunjukkan menjelang maghrib. Tatang melangkah ke arah masjid rumah sakit. Angin sore membawa aroma basah tanah dan daun. Di depan masjid, ia melihat tiga sosok yang sangat dikenal—Ustadz Adi, Gus Buha, dan Buya Haya.
Ketiganya baru datang dari luar kota, kabarnya khusus untuk mendoakan Presiden Brapowo yang sedang kritis.
Ustadz Adi menghampiri Tatang sambil tersenyum hangat.
"Sampeyan yang tadi mengantar Bapak Presiden, ya?"
Tatang menunduk sopan. "Iya, Ustadz. Saya cuma supir ambulans, kebetulan piket malam ini."
Gus Buha menepuk pundaknya. "Kadang yang kelihatannya kecil, justru punya peran besar di mata Allah."
Mereka kemudian mengajak Tatang berwudu untuk salat maghrib berjamaah. Tatang menuruti dengan senyum lelah. Tapi saat ia mencuci wajah, ia kembali merasakan nyeri tajam di dada.
Air wudu terasa dingin menusuk tulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Supir Ambulans ( Saat Ajal Menjemput )
HorrorTatang seorang supir ambulan yang mengambil pelajaran hidup dari pasien dan jenazah yang dia antarkan.
