Sesampainya di rumah sakit, puluhan tenaga medis sudah menunggu. Tatang membantu menurunkan tandu, lalu tubuh presiden segera dibawa masuk ke ruang ICU.
Tatang berdiri terpaku di lorong rumah sakit. Lampu putih membuat wajahnya semakin pucat. Dada kirinya masih terasa perih. Ia bersandar di dinding, menarik napas panjang.
Suara langkah kaki perawat dan dokter berlalu lalang di sekitarnya, tapi bagi Tatang, semua itu terdengar seperti gema jauh. Ia menatap ambulansnya yang kini basah kuyup oleh hujan.
Dalam benaknya, kenangan lama muncul—wajah-wajah pasien yang ia antar, tangisan keluarga yang berpisah di depan rumah sakit, dan setiap malam panjang yang ia lewati sendirian.
Ia sadar, hidupnya hampir seluruhnya dihabiskan untuk mengantar orang lain menuju kehidupan... atau kematian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Supir Ambulans ( Saat Ajal Menjemput )
HorrorTatang seorang supir ambulan yang mengambil pelajaran hidup dari pasien dan jenazah yang dia antarkan.
