Ketika mengejar belasan orang itu di tempat yang dekat dengan pohon di mana Bun Hong tengah bersembunyi, tampak gadis itu menjejakkan kakinya, tubuhnya seperti burung walet yang melesat di tengah udara, melambung tinggi dan kemudian hinggap tepat melintang menghadang di depan Ang Kwang dan kawan-kawannya!
"Berhenti!" Bentak gadis itu dengan suara yang bengis dan pedang pendeknya itu dilintangkan pada dasarnya, siap dipergunakan.
Ang Kwang merandek, kaget dan ketakutan karena ia bersama kawan-kawannya menyadari, kepandaian gadis itu memang tinggi dan tidak mungkin mereka hadapi dengan baik, walaupun mereka berjumlah belasan orang. Tadi mereka telah mencobanya dan karena mereka dipermainkan terus menerus oleh gadis itu.
"Jika memang kalian menyayangi jiwa kalian dan tetap ingin hidup, cepat kalian beritahukan, di mana Giok-sie disembunyikan?" Tanya gadis ini dengan suara yang bengis.
Ang Kwang tampaknya ragu-ragu. Namun akhirnya ia bilang juga. "Untuk itu...... itu...... hanya pangcu kami yang mengetahui......!"
"Hemm, karena kau tidak mau memberitahukan, baiklah, jiwa kalian kukirim ke neraka!" Bentak gadis itu. "Dan terimalah kematian untuk kalian!"
Setelah berkata begitu, segera juga si gadis bersiap-siap untuk menyerang lagi.
Ang Kwang tampak jeri, malah ia segera juga berseru: "Tahan...... tunggu dulu......!"
Si gadis berpakaian compang-camping, tapi tampaknya bukan pengemis sembarangan, sebab bahan baju dan celananya terbuat dari bahan sutera halus yang mahal harganya, telah menahan pedangnya, bentaknya: "Apakah kau ingin memberitahukan di mana adanya Giok-sie?"
"Jika memang nona....... nona ingin mengetahui di mana adanya Giok-sie, ada baiknya nona ikut dengan kami menghadap Pangcu kami....... Tentu Pangcu kami akan memberitahukan di mana adanya Giok-sie itu!" Menyahuti Ang Kwang dengan suara tidak lancar. "Kami sesungguhnya....... tidak mengetahui di mana beradanya Giok-sie!"
Gadis itu akhirnya menurunkan pedangnya dia menghela napas.
"Baiklah! Aku percaya memang kalian tidak mengetahui di mana adanya Giok-sie!" Kata gadis itu. "Nah, menggelinding pergilah kalian!"
Rupanya gadis itu telah melihatnya juga, bahwa Ang Kwang dengan kawan-kawannya itu, sesungguhnya tak mengetahui di mana adanya Giok-sie, karena sejak tadi ia telah mendesak dan mengancamnya, tetap saja ia melihat Ang Kwang dan kawan-kawannya tidak mengetahui adanya Giok-sie. Melihat sikap Ang Kwang dan kawan-kawannya itu, ia mau juga mempercayainya bahwa Ang Kwang dan kawan-kawan tak berdusta, karena itu ia membiarkan Ang Kwang dan kawan-kawannya pergi.
Ang kwang dan kawan-kawannya tanpa menunggu dua kali gadis itu perintahkan mereka pergi, segera juga memutar tubuh untuk berlari secepat-cepatnya meninggalkan tempat itu.
"Beritahukan Pangcu kalian, dalam beberapa hari aku akan datang meminta Giok-sie padanya!" berseru si gadis waktu Ang Kwang dan kawan-kawannya berlari belum begitu jauh.
Ang Kwang dan teman-tamannya tak menyahuti, mereka berlari terus dengan cepat.
Sedangkan si gadis menghela napas dalam-dalam ia menggumam perlahan: "Sayang! Sayang!"
Tadi memang dia telah menghadang Ang Kwang dan kawan-kawannya, memaksa mereka untuk memberitahukan di mana adanya Giok-sie karena gadis itu mengenali Ang Kwang sebagai orang Kim-giok-pang. Walaupun telah didesak dan diancam dengan serangan-serangannya, Ang Kwang dan teman-temannya yang tampaknya tidak berdaya menghadapi setiap serangan si gadis ternyata tetap memberitahukan bawa mereka tidak tahu menahu mengenai Giok-sie.
Dengan langkah perlahan gadis dengan pakaian yang luar biasa itu menuju ke bawah pohon di mana Bun Hong menyembunyikan diri. Ia duduk di bawah pohon tersebut, berulang kali ia menghela napas dalam-dalam, sepasang alisnya tampak mengkerut. Ia telah menggumam lagi:
KAMU SEDANG MEMBACA
Pendekar Aneh Seruling Sakti
FantasyCinkeng ini merupakan lanjutan dari "Anak Rajawali".
